Langsung ke konten utama

Paradoks Dibalik Kesombongan Akademik

Bersama Kawan Waktu Sekolah (Muslim Duwila)


Oleh: Sahrul Takim 

"Aku lebih Menghargai Orang yang Beradab daripada Berilmu. Kalau hanya berilmu Iblis pun lebih Tinggi ilmunya Daripada Manusia." (Syekh Abdul Qadir Al-Jailani)

Pengantar 

Pencapaian gelar akademik sejatinya adalah prestasi yang patut dibanggakan, karena mencerminkan usaha, disiplin, dan dedikasi seseorang dalam menuntut ilmu. Namun, di sisi lain, gelar akademik seharusnya tidak menjadi landasan untuk kesombongan atau sikap merendahkan orang lain atau dalam istilah dikenal dengan Kesombongan Akademik. 

Kesombongan akademik merupakan sikap atau perilaku yang menunjukkan keangkuhan, arogansi, atau merasa lebih tinggi daripada orang lain karena capaian atau status akademik seseorang. Sikap ini pada dasarnya merupakan perwujudan negatif dari keberhasilan intelektual yang seharusnya menjadi sumber inspirasi dan kerendahan hati, tetapi justru menjadi penghalang dalam proses belajar, berbagi pengetahuan, dan menjalin hubungan sosial yang sehat.

Kesombongan akademik bisa muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari rasa superioritas terhadap teman sejawat, menganggap remeh pendapat orang lain yang kurang berpendidikan formal, hingga menolak kritik atau sudut pandang alternatif. Individu yang sombong secara akademik sering kali lebih fokus pada gelar, capaian angka atau publikasi, dan status sosial daripada pada substansi ilmu dan manfaat praktis dari pengetahuan tersebut.

Hal ini dapat menyebabkan sikap eksklusif, di mana hanya orang-orang tertentu yang dianggap pantas masuk dalam komunitas intelektual, sementara yang lain dianggap tidak layak atau inferior. Kesombongan ini juga menghambat kolaborasi, karena individu lebih sibuk membuktikan keunggulan diri daripada membangun sinergi.

Opini ini mengajak kita untuk merenungkan pentingnya sikap rendah hati meskipun telah meraih gelar akademik dan bahaya yang muncul apabila gelar dijadikan alat untuk merasa lebih superior.


Gelar Akademik sebagai  Amanah

Gelar akademik adalah hasil proses pembelajaran dan pengembangan diri yang panjang. Namun, gelar itu bukanlah jaminan mutlak atas kebijaksanaan, moralitas, atau nilai kemanusiaan seseorang. Gelar hanyalah sebuah simbol yang mencerminkan pengetahuan formal yang diperoleh dari institusi pendidikan. Oleh karena itu, memiliki gelar seharusnya dianggap sebagai sebuah amanah, suatu tanggung jawab untuk terus belajar, berkontribusi, dan mengabdi kepada masyarakat.

Jika seseorang menganggap gelarnya sebagai prestise untuk dipamerkan semata tanpa diiringi sikap rendah hati, hal itu dapat menimbulkan kesan sombong yang merugikan. Kesombongan akademik dapat menimbulkan jurang sosial dan komunikasi antar individu, serta melemahkan nilai sejati pendidikan yang menekankan pengembangan akhlak dan karakter.

Gelar akademik sejatinya adalah sebuah amanah yang mengandung tanggung jawab besar bagi pemegangnya. Gelar tersebut bukan sekadar simbol pencapaian intelektual atau prestise sosial, melainkan mandat moral dan etika untuk mengaplikasikan ilmu pengetahuan demi kebaikan masyarakat dan kemajuan peradaban. Sebagai amanah, gelar akademik harus dipandang sebagai kewajiban untuk terus belajar, berbagi pengetahuan secara benar, serta menjaga integritas dan kejujuran dalam setiap tindakan akademik dan profesional.

Pemegang gelar akademik harus menyadari bahwa ilmu yang diperoleh harus dimanfaatkan untuk memberikan kontribusi positif dalam berbagai bidang kehidupan, tidak hanya untuk kepentingan pribadi atau kelompok tertentu. Selain itu, mereka harus menghindari sikap sombong dan eksklusif yang justru merusak nilai keilmuan dan merugikan masyarakat. Dengan demikian, gelar akademik sebagai amanah menjadi panggilan untuk berperan aktif sebagai agen perubahan yang bertanggung jawab dan mampu menyeimbangkan antara kecerdasan intelektual dan kebijaksanaan moral.


Bahaya Kesombongan Akademik

Sikap sombong dengan gelar akademik berpotensi menimbulkan beberapa dampak negatif, antara lain:

Merusak hubungan sosial: Orang yang memandang rendah orang lain yang tidak memiliki atau belum menyelesaikan pendidikan formal sering kali menciptakan jarak sosial yang tidak sehat. Hal ini menghambat kerja sama dan komunikasi efektif, baik di lingkungan kerja maupun dalam kehidupan sosial sehari-hari.

Membatasi wawasan: Kesombongan membuat seseorang merasa sudah “paling tahu,” sehingga menutup diri dari kritik dan pembelajaran baru. Seseorang seperti ini cenderung stagnan dalam perkembangan ilmu dan sikap.

Menghilangkan nilai kemanusiaan: Ketika gelar dijadikan alasan untuk meremehkan orang lain, maka aspek empati, toleransi, dan menghargai keanekaragaman pengalaman justru menjadi tergerus.

Menimbulkan konflik dan ketidakadilan: Dalam konteks organisasi atau masyarakat, kesombongan akademik dapat memperkuat sikap diskriminasi atau eksklusivisme, yang menghambat pembentukan lingkungan yang inklusif dan adil.

Bahaya kesombongan akademik juga terkait dengan kecenderungan individu untuk melakukan praktik tidak etis demi mempertahankan citra superioritasnya. Sering kali, rasa sombong membuat seseorang mengabaikan integritas ilmiah, seperti melakukan plagiarisme, memanipulasi data, atau mengambil untung atas karya orang lain. Hal ini bukan hanya merusak reputasi individu tersebut, tapi juga mencemari dunia akademik secara keseluruhan. Ketika integritas itu terkikis, kepercayaan publik terhadap lembaga pendidikan dan penelitian pun menjadi buruk.


Pendidikan yang Sesungguhnya adalah Pendidikan Budi Pekerti

Pendidikan sejatinya bukan hanya soal mengumpulkan gelar atau sertifikat, melainkan proses pembentukan karakter dan kepribadian yang luhur. Seorang yang berpendidikan tinggi sejati adalah mereka yang mampu mengintegrasikan ilmu, akhlak mulia, dan sikap santun dalam pergaulan sehari-hari.

Dalam konteks Islam dan berbagai budaya lokal di Indonesia, nilai rendah hati dan santun sangat ditekankan. Rasulullah Muhammad SAW bersabda bahwa ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang diamalkan dengan sikap rendah hati, bukan ilmu yang dipamerkan untuk menyombongkan diri. Dengan demikian, keberhasilan akademik harus dibarengi dengan keikhlasan, kesederhanaan, dan rasa hormat kepada sesama.


Gelar Akademik sebagai Sarana Untuk Melayani.

Gelar akademik harus dilihat sebagai sarana untuk pengabdian dan pelayanan kepada masyarakat, bukan sebagai alat kekuasaan atau superioritas. Orang berpendidikan hendaknya menjadi agen perubahan yang menjembatani ilmu dengan kebutuhan sosial, yaitu membantu memecahkan masalah, memperbaiki kualitas hidup, dan membawa kemajuan.

Dengan demikian, memiliki gelar akademik adalah panggilan moral untuk berkontribusi pada kebaikan bersama, bukan untuk menjatuhkan, memandang rendah, atau mendominasi orang lain. Seseorang yang bijak menggunakan gelarnya untuk membimbing dan menginspirasi, bukan untuk mengintimidasi atau mengucilkan.

Gelar akademik seharusnya dipandang sebagai sarana untuk melayani, bukan sekadar prestasi pribadi atau pengakuan sosial. Dengan bekal ilmu dan kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan formal, pemegang gelar akademik memiliki kewajiban moral untuk menggunakan pengetahuan tersebut demi kemaslahatan masyarakat. Gelar ini memberi kemampuan untuk memberikan kontribusi nyata dalam berbagai sektor, seperti pendidikan, penelitian, kebijakan publik, kesehatan, dan pengembangan sosial-ekonomi.

Melalui sikap melayani, akademisi dan profesional dapat menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik, serta menyebarkan ilmu pengetahuan secara inklusif dan bertanggung jawab. Gelar akademik sebagai sarana melayani menuntut kesadaran bahwa keberhasilan akademik bukan untuk dipamerkan, tetapi untuk dijadikan landasan pengabdian yang membawa perubahan positif bagi lingkungan sekitar dan masyarakat luas. Oleh karena itu, integritas, empati, dan komitmen sosial harus selalu menjadi pijakan dalam menjalankan tugas sebagai pemegang gelar akademik.


Kesimpulan

Kesombongan akademik adalah penyakit laten dalam dunia intelektual yang dapat mengganggu kemajuan ilmu pengetahuan dan menimbulkan kerusakan hubungan sosial. Meskipun akademik merupakan bidang yang menuntut kompetensi tinggi, penanaman kerendahan hati dan sikap terbuka sangat penting agar ilmu benar-benar menjadi kekuatan untuk perubahan positif. Pendidikan yang membentuk karakter, budaya akademik inklusif, dan penegakan etika adalah kunci utama untuk mengatasi praktik kesombongan ini. Sehingga, akademisi tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga bermartabat dan membawa manfaat nyata bagi masyarakat luas.

Janganlah sombong dengan gelar akademik karena gelar sesungguhnya hanyalah alat, bukan tujuan akhir. Kesombongan hanya akan mengerdilkan nilai diri dan memutus tali silaturahmi kemanusiaan. Sikap rendah hati, rasa hormat kepada semua orang, serta komitmen untuk terus belajar dan melayani adalah wujud sebenarnya dari seseorang yang sejati berpendidikan. Mari kita renungkan bersama, bahwa kemuliaan ilmu adalah pada manfaat dan kerendahan hati, bukan pada gelar yang tersemat di depan nama.


Waiipa Cazica, 11 September 2025

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketidakadilan yang Membusuk: Ketika Prioritas Publik Menghukum Guru Honorer

Oleh: Sahrul Takim Pendahuluan: Angka yang mengoyak Hati Tidak ada yang lebih mengoyak nurani kolektif daripada melihat angka-angka, angka yang seharusnya merepresentasikan penghargaan negara terhadap kerja, pengabdian, dan martabat manusia, tetapi justru membuka tabir tentang betapa kelirunya arah prioritas kebijakan publik. Pada awal tahun 2026, masyarakat Indonesia disuguhi fakta yang mengejutkan melalui pemberitaan media massa mengenai besaran gaji pegawai Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kepala dapur disebut menerima gaji hingga tujuh juta rupiah per bulan, ahli gizi dan akuntan di kisaran lima juta rupiah, pengantar makanan sekitar tiga juta rupiah, bahkan tukang cuci piring memperoleh sekitar dua juta lima ratus ribu rupiah. Angka-angka ini pada dasarnya bukan persoalan jika berdiri sendiri, sebab setiap pekerjaan memang layak memperoleh upah yang manusiawi. Namun persoalan serius muncul ketika angka-angka tersebut dibandingkan dengan realitas yang dialami guru honorer di I...

Miliaran Rupiah Tanpa Jejak; PPJ dan Korban Nyawa di Kota Sanana

Oleh: Sahrul Takim  Ada ironi besar yang terus dibiarkan tumbuh di Kabupaten Kepulauan Sula yakni rakyat membayar untuk penerangan, namun yang diperoleh bertahun-tahun hanya kegelapan. Pajak Penerangan Jalan (PPJ) dipungut rutin, disiplin, dan nyaris tanpa celah. Namun hasilnya? Kota Sanana di malam hari justru menampilkan wajah kumuh, gelap, dan berbahaya sebuah potret keburukan tata kelola anggaran daerah yang telanjang di depan mata publik. Secara normatif, PPJ adalah pajak daerah yang dipungut melalui rekening listrik PLN berdasarkan Undang-Undang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD). Skemanya sederhana: setiap pembelian token listrik prabayar, masyarakat otomatis membayar tambahan 10 persen untuk PPJ. Dana ini langsung masuk ke Kas Daerah sebagai Pendapatan Asli Daerah (PAD). Pertanyaannya sederhana tapi agak aneh adalah kemana perginya uang itu? Dengan jumlah pelanggan listrik di Kepulauan Sula yang terus bertambah selama kurang lebih 20 tahun, akumulasi PPJ yang masuk ke...

PERNIKAHAN ATARA KEMEWAHAN DAN KEBERKAHAN

  Oleh: Sahrul Takim   "Pernikahan bukanlah tentang kemewahan, tapi tentang keberkahan. Maka jangan jadikan ia berat karena mahar yang mahal atau pesta yang berlebihan." ( Syekh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah) Prolog Pernikahan adalah salah satu sunnah Rasulullah SAW yang sangat dianjurkan bagi umat Islam. Ia bukan hanya sekadar penyatuan dua insan, melainkan juga ibadah yang bernilai tinggi, sarana menjaga kehormatan diri, serta jalan untuk membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Realitas kehidupan masyarakat saat ini, sering kali pernikahan justru dibebani dengan biaya yang sangat besar, hingga membuat sebagian orang merasa enggan atau menunda pernikahan karena keterbatasan ekonomi. Bahkan kerap menempuh jalan pintas walau harus memikul dosa besar, hanya karena menghindari tingginya Penetapan Biaya Nikah. Sebagian lain harus memilih mengakhiri perasaan dan perjalanan selanjutnya disebabkan karena tidak memiliki biaya yang besar. Dalam masyarakat...