Langsung ke konten utama

Postingan

Menanam Hari Ini atau Menyesal Esok Hari: Suara STAI Babussalam Sula untuk Lingkungan

Oleh: Sahrul Takim  Jika bumi rusak oleh keserakahan, maka pohon tumbuh dari kesadaran. Prolog  Krisis lingkungan hidup dewasa ini telah menjadi persoalan global yang dampaknya dirasakan hingga ke wilayah-wilayah terpencil, termasuk daerah kepulauan. Perubahan iklim, kerusakan hutan, penurunan kualitas udara, krisis air bersih, dan meningkatnya bencana ekologis merupakan tanda bahwa relasi manusia dengan alam berada dalam kondisi yang tidak seimbang. Dalam situasi seperti ini, tindakan-tindakan kecil yang berpihak pada kelestarian lingkungan justru memperoleh makna yang sangat besar. Salah satu tindakan tersebut adalah menanam pohon. Aktivitas menanam pohon sering kali dipersepsikan sebagai kegiatan rutin, seremonial, bahkan simbolik. Namun, jika ditelaah secara lebih mendalam, menanam pohon sejatinya adalah bentuk perlawanan. Ia adalah perlawanan terhadap kerusakan ekologis, perlawanan terhadap paradigma pembangunan yang eksploitatif, serta perlawanan terhadap sikap apatis ma...
Postingan terbaru

Miliaran Rupiah Tanpa Jejak; PPJ dan Korban Nyawa di Kota Sanana

Oleh: Sahrul Takim  Ada ironi besar yang terus dibiarkan tumbuh di Kabupaten Kepulauan Sula yakni rakyat membayar untuk penerangan, namun yang diperoleh bertahun-tahun hanya kegelapan. Pajak Penerangan Jalan (PPJ) dipungut rutin, disiplin, dan nyaris tanpa celah. Namun hasilnya? Kota Sanana di malam hari justru menampilkan wajah kumuh, gelap, dan berbahaya sebuah potret keburukan tata kelola anggaran daerah yang telanjang di depan mata publik. Secara normatif, PPJ adalah pajak daerah yang dipungut melalui rekening listrik PLN berdasarkan Undang-Undang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD). Skemanya sederhana: setiap pembelian token listrik prabayar, masyarakat otomatis membayar tambahan 10 persen untuk PPJ. Dana ini langsung masuk ke Kas Daerah sebagai Pendapatan Asli Daerah (PAD). Pertanyaannya sederhana tapi agak aneh adalah kemana perginya uang itu? Dengan jumlah pelanggan listrik di Kepulauan Sula yang terus bertambah selama kurang lebih 20 tahun, akumulasi PPJ yang masuk ke...

Ketidakadilan yang Membusuk: Ketika Prioritas Publik Menghukum Guru Honorer

Oleh: Sahrul Takim Pendahuluan: Angka yang mengoyak Hati Tidak ada yang lebih mengoyak nurani kolektif daripada melihat angka-angka, angka yang seharusnya merepresentasikan penghargaan negara terhadap kerja, pengabdian, dan martabat manusia, tetapi justru membuka tabir tentang betapa kelirunya arah prioritas kebijakan publik. Pada awal tahun 2026, masyarakat Indonesia disuguhi fakta yang mengejutkan melalui pemberitaan media massa mengenai besaran gaji pegawai Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kepala dapur disebut menerima gaji hingga tujuh juta rupiah per bulan, ahli gizi dan akuntan di kisaran lima juta rupiah, pengantar makanan sekitar tiga juta rupiah, bahkan tukang cuci piring memperoleh sekitar dua juta lima ratus ribu rupiah. Angka-angka ini pada dasarnya bukan persoalan jika berdiri sendiri, sebab setiap pekerjaan memang layak memperoleh upah yang manusiawi. Namun persoalan serius muncul ketika angka-angka tersebut dibandingkan dengan realitas yang dialami guru honorer di I...

Isra Mi‘raj sebagai Metafora Pendidikan: Dari Transendensi Menuju Realitas Kehidupan Masyarakat Kepulauan Sula

 Oleh Sahrul Takim Makna Isra Mi‘raj bukan terletak pada seberapa tinggi seseorang naik secara spiritual, tetapi pada seberapa besar nilai kemanusiaan yang ia bawa saat kembali ke masyarakat. (Nurcholish Madjid)   Pendahuluan: Ketika Peristiwa Langit Turun ke Bumi Setiap tahun, Isra Mi‘raj diperingati dengan khidmat oleh umat Islam. Ceramah disampaikan, doa dipanjatkan, dan kisah perjalanan Nabi Muhammad SAW diulang dari mimbar ke mimbar. Peristiwa ini selalu ditempatkan sebagai momentum sakral yang sarat dengan nuansa spiritual dan keajaiban ilahiah. Namun, di balik kemeriahan ritual dan kesyahduan peringatan, sering kali terselip satu persoalan mendasar: Isra Mi‘raj berhenti sebagai kisah, bukan sebagai kesadaran. Ia diperingati, tetapi tidak dihidupi. Ia dikagumi, tetapi jarang diterjemahkan ke dalam sikap dan tindakan sosial. Dalam praktik keagamaan sehari-hari, Isra Mi‘raj kerap dipahami sebagai peristiwa luar biasa yang berada di luar jangkauan rasional manusia. Pe...