Langsung ke konten utama

Postingan

81 Tahun; Garuda, Aku Melihat Banyak Peristiwa

  Oleh: Imam Lafran S. Takim Dikala Indonesia dilahirkan, aku menemukan wajah rakyat yang kusam dan letih, namun menyimpan kegembiraan yang tak terlukiskan. Tangisan haru anak-anak yatim dan para janda bercampur dengan sorak-sorai rakyat yang menyambut sebuah pagi baru: pagi ketika bangsa ini akhirnya berdiri dengan kepala tegak di tanahnya sendiri. Aku melihat para kiai hanyut dalam lantunan takbir yang megah, seakan suaranya merobek langit Nusantara. Aku melihat para pendeta dan uskup khusyuk dalam doa. Aku melihat para biksu dan rohaniwan Buddha menundukkan kepala dalam rasa syukur. Di berbagai pelosok negeri, setiap manusia berdoa dengan cara dan keyakinannya masing-masing, tetapi dengan harapan yang sama: semoga Indonesia menjadi rumah yang adil bagi semua. Kemerdekaan bukan sekadar pergantian bendera. Ia adalah kelahiran sebuah harapan. Lima tahun setelah Proklamasi, tepat pada 11 Februari 1950 , Garuda sebagai Lambang Negara Republik Indonesia mulai memperoleh bentukny...
Postingan terbaru

Ketika Atap Menjadi Perdebatan, Rakyat Masih Menunggu Kesejahteraan

  Oleh: Sahrul Takim  Indonesia adalah negara yang dibangun di atas cita-cita besar sebagaimana termaktub dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, serta mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Amanat konstitusi tersebut seharusnya menjadi arah utama dalam setiap kebijakan negara. Oleh karena itu, setiap pernyataan dan kebijakan pejabat publik, terlebih Presiden sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan, akan selalu dinilai berdasarkan sejauh mana kebijakan tersebut mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat. Belakangan ini, publik ramai membicarakan pemberitaan di media sosial yang menyebut Presiden Prabowo Subianto mengusulkan agar masyarakat kembali menggunakan atap rumah berbahan ijuk dan rumbai, disertai alasan bahwa penggunaan atap seng dapat berdampak buruk terhadap kesehatan paru-paru. Terlepas dari konteks leng...

Negara lebih menghargai Kipas Angin dari Kesejahteraan Guru

  Oleh: Sahrul Takim  Bangsa tidak akan kehilangan masa depan karena kekurangan gedung, tetapi karena gagal menghargai guru yang membangun manusia (Nai Ulen) Dalam beberapa bulan terakhir, ruang publik Indonesia tidak hanya dipenuhi oleh pembahasan mengenai kualitas pendidikan dan kesejahteraan guru, tetapi juga oleh perdebatan mengenai arah kebijakan fiskal pemerintah. Berbagai media daring memberitakan adanya polemik terkait Program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, termasuk isu mengenai rencana pengadaan kipas angin yang disebut bernilai sekitar Rp1,2 triliun serta pengadaan kendaraan operasional berupa truk. Di sisi lain, pemerintah memberikan klarifikasi bahwa berbagai angka dan rincian yang beredar masih perlu dipahami secara utuh karena tidak seluruh informasi yang beredar di media sosial mencerminkan kebijakan final pemerintah. Terlepas dari benar atau tidaknya keseluruhan informasi tersebut, satu hal yang tidak dapat diabaikan adalah lahirnya persepsi publik meng...

Ketika Pendidikan Berhenti di Tengah Jalan: Tingginya Angka Putus Sekolah dan Terbatasnya Peluang Pendidikan Lanjutan Pada Jenjang pendidikan Tinggi di Kabupaten Kepulauan Sula

  Oleh: Dr. Sahrul Takim, S.Pd.I., M.Pd.I. “Pendidikan yang terhenti di tengah jalan bukanlah sekadar kehilangan bangku sekolah, melainkan kehilangan arah bagi seluruh masa depan; karena setiap anak yang putus sekolah adalah sebuah dunia yang terputus POTENSInya, dan masyarakat yang membiarkan itu terjadi sedang menggali lubang bagi kemiskinan, ketidaktahuan, dan ketergantungan yang akan menelan generasi-generasi berikutnya.”  Paulo Freire (ahli pendidikan kritis) Pendahuluan Pendidikan merupakan investasi paling berharga bagi suatu bangsa. Berbeda dengan pembangunan fisik yang dapat mengalami kerusakan akibat waktu atau bencana, investasi pada pendidikan akan terus memberikan manfaat melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia. Oleh karena itu, hampir seluruh negara maju menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama pembangunan. Pendidikan tidak hanya menghasilkan tenaga kerja yang terampil, tetapi juga membentuk karakter, memperkuat kohesi sosial, mengurangi kemiskinan...