Langsung ke konten utama

Postingan

JANGAN KITA KHUSYUK BERDOA AGAR TURUN HUJAN, NAMUN KITA SIBUK MERUSAK HUTAN; Membaca Ironi Kerusakan Hutan, Penebangan yang Melanggar Aturan, Krisis Air, dan Masa Depan Ekologi Kepulauan Sula

  Oleh: Dr. Sahrul Takim, S.Pd.I., M.Pd.I.   PROLOG Ada sebuah ironi ekologis yang seharusnya membuat kita berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri, mengapa kita begitu khusyuk meminta hujan kepada Allah SWT, sementara pada saat yang sama kita begitu sibuk merusak hutan yang menjadi bagian penting dari sistem kehidupan? Ketika musim kemarau datang dan tanah mulai mengering, kita menengadah ke langit, berharap awan segera berkumpul dan hujan kembali membasahi bumi. Kita berdoa agar mata air tidak mengering, sumur tetap terisi, kebun warga mendapatkan air, dan masyarakat tidak mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, di balik doa-doa itu terdapat pertanyaan yang jauh lebih menggelisahkan yakni ketika kita meminta air dari langit, apa yang sebenarnya sedang kita lakukan terhadap bumi sebagai sarana penampung air tersebut? Kita mengeluh ketika mata air mulai berkurang, tetapi sering kali tidak cukup serius melihat kondisi hutan dan daerah tangkap...
Postingan terbaru

81 Tahun; Garuda, Aku Melihat Banyak Peristiwa

  Oleh: Imam Lafran S. Takim Dikala Indonesia dilahirkan, aku menemukan wajah rakyat yang kusam dan letih, namun menyimpan kegembiraan yang tak terlukiskan. Tangisan haru anak-anak yatim dan para janda bercampur dengan sorak-sorai rakyat yang menyambut sebuah pagi baru: pagi ketika bangsa ini akhirnya berdiri dengan kepala tegak di tanahnya sendiri. Aku melihat para kiai hanyut dalam lantunan takbir yang megah, seakan suaranya merobek langit Nusantara. Aku melihat para pendeta dan uskup khusyuk dalam doa. Aku melihat para biksu dan rohaniwan Buddha menundukkan kepala dalam rasa syukur. Di berbagai pelosok negeri, setiap manusia berdoa dengan cara dan keyakinannya masing-masing, tetapi dengan harapan yang sama: semoga Indonesia menjadi rumah yang adil bagi semua. Kemerdekaan bukan sekadar pergantian bendera. Ia adalah kelahiran sebuah harapan. Lima tahun setelah Proklamasi, tepat pada 11 Februari 1950 , Garuda sebagai Lambang Negara Republik Indonesia mulai memperoleh bentukny...