Langsung ke konten utama

Postingan

Potret Pendidikan di Kabupaten Kepulauan Sula: Antara Ekspansi Akses dan Ketimpangan Kualitas (Refleksi Kritis Menyongsong Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2026)

  Oleh: Sahrul Takim Pendidikan merupakan instrumen utama dalam pembangunan sumber daya manusia. Namun, di wilayah kepulauan seperti Kabupaten Kepulauan Sula, tantangan pendidikan tidak hanya berkaitan dengan akses, tetapi juga kualitas dan keberlanjutan. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis potret pendidikan di Kepulauan Sula dengan menggunakan pendekatan deskriptif-analitis berbasis data sekunder dari portal resmi pendidikan dan statistik nasional. Hasil kajian menunjukkan bahwa meskipun akses pendidikan dasar relatif tinggi, masih terdapat ketimpangan signifikan pada jenjang pendidikan menengah dan tinggi. Kondisi ini dipengaruhi oleh faktor geografis, ekonomi, sosial, serta kualitas layanan pendidikan. Oleh karena itu, diperlukan transformasi kebijakan pendidikan yang lebih kontekstual dan berkelanjutan.   A.      Prolog Pendidikan memiliki peran strategis dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat serta mendorong pembangunan ekonomi secara ...
Postingan terbaru

Menanam Hari Ini atau Menyesal Esok Hari: Suara STAI Babussalam Sula untuk Lingkungan

Oleh: Sahrul Takim  Jika bumi rusak oleh keserakahan, maka pohon tumbuh dari kesadaran. Prolog  Krisis lingkungan hidup dewasa ini telah menjadi persoalan global yang dampaknya dirasakan hingga ke wilayah-wilayah terpencil, termasuk daerah kepulauan. Perubahan iklim, kerusakan hutan, penurunan kualitas udara, krisis air bersih, dan meningkatnya bencana ekologis merupakan tanda bahwa relasi manusia dengan alam berada dalam kondisi yang tidak seimbang. Dalam situasi seperti ini, tindakan-tindakan kecil yang berpihak pada kelestarian lingkungan justru memperoleh makna yang sangat besar. Salah satu tindakan tersebut adalah menanam pohon. Aktivitas menanam pohon sering kali dipersepsikan sebagai kegiatan rutin, seremonial, bahkan simbolik. Namun, jika ditelaah secara lebih mendalam, menanam pohon sejatinya adalah bentuk perlawanan. Ia adalah perlawanan terhadap kerusakan ekologis, perlawanan terhadap paradigma pembangunan yang eksploitatif, serta perlawanan terhadap sikap apatis ma...

Miliaran Rupiah Tanpa Jejak; PPJ dan Korban Nyawa di Kota Sanana

Oleh: Sahrul Takim  Ada ironi besar yang terus dibiarkan tumbuh di Kabupaten Kepulauan Sula yakni rakyat membayar untuk penerangan, namun yang diperoleh bertahun-tahun hanya kegelapan. Pajak Penerangan Jalan (PPJ) dipungut rutin, disiplin, dan nyaris tanpa celah. Namun hasilnya? Kota Sanana di malam hari justru menampilkan wajah kumuh, gelap, dan berbahaya sebuah potret keburukan tata kelola anggaran daerah yang telanjang di depan mata publik. Secara normatif, PPJ adalah pajak daerah yang dipungut melalui rekening listrik PLN berdasarkan Undang-Undang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD). Skemanya sederhana: setiap pembelian token listrik prabayar, masyarakat otomatis membayar tambahan 10 persen untuk PPJ. Dana ini langsung masuk ke Kas Daerah sebagai Pendapatan Asli Daerah (PAD). Pertanyaannya sederhana tapi agak aneh adalah kemana perginya uang itu? Dengan jumlah pelanggan listrik di Kepulauan Sula yang terus bertambah selama kurang lebih 20 tahun, akumulasi PPJ yang masuk ke...

Ketidakadilan yang Membusuk: Ketika Prioritas Publik Menghukum Guru Honorer

Oleh: Sahrul Takim Pendahuluan: Angka yang mengoyak Hati Tidak ada yang lebih mengoyak nurani kolektif daripada melihat angka-angka, angka yang seharusnya merepresentasikan penghargaan negara terhadap kerja, pengabdian, dan martabat manusia, tetapi justru membuka tabir tentang betapa kelirunya arah prioritas kebijakan publik. Pada awal tahun 2026, masyarakat Indonesia disuguhi fakta yang mengejutkan melalui pemberitaan media massa mengenai besaran gaji pegawai Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kepala dapur disebut menerima gaji hingga tujuh juta rupiah per bulan, ahli gizi dan akuntan di kisaran lima juta rupiah, pengantar makanan sekitar tiga juta rupiah, bahkan tukang cuci piring memperoleh sekitar dua juta lima ratus ribu rupiah. Angka-angka ini pada dasarnya bukan persoalan jika berdiri sendiri, sebab setiap pekerjaan memang layak memperoleh upah yang manusiawi. Namun persoalan serius muncul ketika angka-angka tersebut dibandingkan dengan realitas yang dialami guru honorer di I...