Oleh: Imam Lafran S. Takim Dikala Indonesia dilahirkan, aku menemukan wajah rakyat yang kusam dan letih, namun menyimpan kegembiraan yang tak terlukiskan. Tangisan haru anak-anak yatim dan para janda bercampur dengan sorak-sorai rakyat yang menyambut sebuah pagi baru: pagi ketika bangsa ini akhirnya berdiri dengan kepala tegak di tanahnya sendiri. Aku melihat para kiai hanyut dalam lantunan takbir yang megah, seakan suaranya merobek langit Nusantara. Aku melihat para pendeta dan uskup khusyuk dalam doa. Aku melihat para biksu dan rohaniwan Buddha menundukkan kepala dalam rasa syukur. Di berbagai pelosok negeri, setiap manusia berdoa dengan cara dan keyakinannya masing-masing, tetapi dengan harapan yang sama: semoga Indonesia menjadi rumah yang adil bagi semua. Kemerdekaan bukan sekadar pergantian bendera. Ia adalah kelahiran sebuah harapan. Lima tahun setelah Proklamasi, tepat pada 11 Februari 1950 , Garuda sebagai Lambang Negara Republik Indonesia mulai memperoleh bentukny...
Oleh: Sahrul Takim Indonesia adalah negara yang dibangun di atas cita-cita besar sebagaimana termaktub dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, serta mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Amanat konstitusi tersebut seharusnya menjadi arah utama dalam setiap kebijakan negara. Oleh karena itu, setiap pernyataan dan kebijakan pejabat publik, terlebih Presiden sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan, akan selalu dinilai berdasarkan sejauh mana kebijakan tersebut mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat. Belakangan ini, publik ramai membicarakan pemberitaan di media sosial yang menyebut Presiden Prabowo Subianto mengusulkan agar masyarakat kembali menggunakan atap rumah berbahan ijuk dan rumbai, disertai alasan bahwa penggunaan atap seng dapat berdampak buruk terhadap kesehatan paru-paru. Terlepas dari konteks leng...