Langsung ke konten utama

Hindari Narasi Provokatif; Mari Memupuk Persatuan Nasional


Oleh: Sahrul Takim

Pemahaman apa pun yang berbeda apalagi bertentangan bisa menjadi bibit-bibit perpecahan dan persatuan bangsa." Hal ini menegaskan pentingnya menjaga sebuah demokrasi yang sehat, yang mampu menghadirkan ruang dialog dan toleransi di tengah perbedaan, demi menjaga persatuan dan ketahanan nasional (KH. Abdurrahman Wahid; Presiden ke-4 Republik Indonesia)

Issue Yang Berkembang

Issue keretakan antara Presiden dan Wakil Presiden merupakan salah satu dinamika politik yang selalu menarik perhatian publik di Indonesia. Hubungan harmonis antara kedua pemimpin tertinggi pemerintahan sangat penting bagi kelancaran roda pemerintahan dan stabilitas nasional. Namun, ketika isu keretakan ini muncul ke permukaan dan menjadi bahan perbincangan luas, dampaknya terhadap masyarakat dapat sangat signifikan, baik dari segi psikologis, sosial, ekonomi, hingga politik.

Isu keretakan antara Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden (yang saat ini Presiden Terpilih Prabowo Subianto) belakangan muncul di ruang publik, tetapi telah dibantah keras oleh pihak Istana dan para tokoh terkait. Staf Khusus Presiden menegaskan bahwa isu tersebut adalah upaya politik adu domba yang sengaja dirancang untuk mengganggu kelancaran agenda pemerintahan dan transisi kekuasaan yang sedang berjalan. Menurut mereka, narasi ini bersifat provokatif yang memecah belah bangsa dan tidak berdasar nyata karena hubungan kedua pemimpin sebenarnya sangat baik dan harmonis .

Menjaga komunikasi dan hubungan yang harmonis antara Presiden dan Wakil Presiden sangat penting untuk menjaga stabilitas politik dan rasa kepercayaan masyarakat atas pemerintahan. Jika isu-isu konflik internal tersebut dibiarkan beredar dan dipercaya luas, hal ini sangat mungkin menciptakan ketidakstabilan yang pada akhirnya mempengaruhi efektivitas kerja pemerintahan dan implementasi kebijakan strategis yang diperlukan untuk kemajuan negara .


Dampak Negatif Membenturkan Masyarakat dengan Isu Keretakan

Membenturkan masyarakat melalui isu keretakan kepemimpinan bukan hanya berpotensi mengganggu kelangsungan pemerintahan, tetapi juga merusak persatuan nasional. Dalam demokrasi yang plural dan beragam seperti Indonesia, politik adu domba adalah bentuk politik usang yang menimbulkan disharmoni, perpecahan, dan hilangnya rasa percaya antar kelompok masyarakat. Ketika masyarakat terpecah, fokus pembangunan nasional dan penyelesaian isu-isu penting seperti kemiskinan, lapangan kerja, dan layanan publik menjadi terhambat .

Persatuan nasional dan sikap toleransi perlu terus dijaga agar masyarakat tetap solid walaupun memiliki perbedaan pilihan politik. Pemimpin negara selayaknya mengedepankan inklusivitas dan rekonsiliasi politik agar tidak terjadi polarisasi yang berdampak pada stabilitas sosial-politik secara luas .


Isu Keretakan sebagai Taktik Politik Adu Domba dan Narasi Provokatif

Berdasarkan analisis, sering kali isu retaknya hubungan antara Presiden dan Wakil Presiden merupakan hasil rekayasa narasi oleh pihak-pihak yang berkepentingan menggoyang kestabilan politik dan pemerintahan. Isu ini dirangkai dari berbagai informasi yang diolah sedemikian rupa tanpa dasar yang kuat hingga menimbulkan spekulasi seolah ada konflik internal. Padahal, dalam kenyataan, kedua pemimpin tersebut memiliki hubungan kerja sama dan komunikasi yang mesra dan menunjang kelancaran pemerintahan serta transisi yang damai .

Isu-isu seperti ini justru merugikan rakyat karena mengalihkan perhatian publik dari isu-isu penting seperti pembangunan, kemiskinan, dan pelayanan publik, serta berpotensi memecah belah masyarakat secara tidak perlu.


Akhir dan sebuah harapan 

Janganlah melepas atau mempercayai begitu saja isu keretakan antara Presiden dan Wakil Presiden Indonesia karena isu tersebut umumnya adalah politik adu domba yang dapat merusak stabilitas pemerintahan maupun persatuan nasional. Lebih baik fokus pada pembangunan dan perbaikan kehidupan rakyat serta menjaga sinergi antar pemimpin agar transisi pemerintahan berjalan mulus dan bangsa tetap bersatu. Memecah belah masyarakat dengan isu yang tidak mendasar hanya akan menimbulkan kerugian jangka panjang bagi negara dan rakyat Indonesia.


Waiipa (Cazica), 2 September 2025

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketidakadilan yang Membusuk: Ketika Prioritas Publik Menghukum Guru Honorer

Oleh: Sahrul Takim Pendahuluan: Angka yang mengoyak Hati Tidak ada yang lebih mengoyak nurani kolektif daripada melihat angka-angka, angka yang seharusnya merepresentasikan penghargaan negara terhadap kerja, pengabdian, dan martabat manusia, tetapi justru membuka tabir tentang betapa kelirunya arah prioritas kebijakan publik. Pada awal tahun 2026, masyarakat Indonesia disuguhi fakta yang mengejutkan melalui pemberitaan media massa mengenai besaran gaji pegawai Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kepala dapur disebut menerima gaji hingga tujuh juta rupiah per bulan, ahli gizi dan akuntan di kisaran lima juta rupiah, pengantar makanan sekitar tiga juta rupiah, bahkan tukang cuci piring memperoleh sekitar dua juta lima ratus ribu rupiah. Angka-angka ini pada dasarnya bukan persoalan jika berdiri sendiri, sebab setiap pekerjaan memang layak memperoleh upah yang manusiawi. Namun persoalan serius muncul ketika angka-angka tersebut dibandingkan dengan realitas yang dialami guru honorer di I...

Miliaran Rupiah Tanpa Jejak; PPJ dan Korban Nyawa di Kota Sanana

Oleh: Sahrul Takim  Ada ironi besar yang terus dibiarkan tumbuh di Kabupaten Kepulauan Sula yakni rakyat membayar untuk penerangan, namun yang diperoleh bertahun-tahun hanya kegelapan. Pajak Penerangan Jalan (PPJ) dipungut rutin, disiplin, dan nyaris tanpa celah. Namun hasilnya? Kota Sanana di malam hari justru menampilkan wajah kumuh, gelap, dan berbahaya sebuah potret keburukan tata kelola anggaran daerah yang telanjang di depan mata publik. Secara normatif, PPJ adalah pajak daerah yang dipungut melalui rekening listrik PLN berdasarkan Undang-Undang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD). Skemanya sederhana: setiap pembelian token listrik prabayar, masyarakat otomatis membayar tambahan 10 persen untuk PPJ. Dana ini langsung masuk ke Kas Daerah sebagai Pendapatan Asli Daerah (PAD). Pertanyaannya sederhana tapi agak aneh adalah kemana perginya uang itu? Dengan jumlah pelanggan listrik di Kepulauan Sula yang terus bertambah selama kurang lebih 20 tahun, akumulasi PPJ yang masuk ke...

PERNIKAHAN ATARA KEMEWAHAN DAN KEBERKAHAN

  Oleh: Sahrul Takim   "Pernikahan bukanlah tentang kemewahan, tapi tentang keberkahan. Maka jangan jadikan ia berat karena mahar yang mahal atau pesta yang berlebihan." ( Syekh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah) Prolog Pernikahan adalah salah satu sunnah Rasulullah SAW yang sangat dianjurkan bagi umat Islam. Ia bukan hanya sekadar penyatuan dua insan, melainkan juga ibadah yang bernilai tinggi, sarana menjaga kehormatan diri, serta jalan untuk membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Realitas kehidupan masyarakat saat ini, sering kali pernikahan justru dibebani dengan biaya yang sangat besar, hingga membuat sebagian orang merasa enggan atau menunda pernikahan karena keterbatasan ekonomi. Bahkan kerap menempuh jalan pintas walau harus memikul dosa besar, hanya karena menghindari tingginya Penetapan Biaya Nikah. Sebagian lain harus memilih mengakhiri perasaan dan perjalanan selanjutnya disebabkan karena tidak memiliki biaya yang besar. Dalam masyarakat...