Oleh: Sahrul Takim
"Guru adalah lilin yang membakar dirinya untuk menerangi jalan orang lain."
Menjadi guru bukanlah sekadar profesi untuk menyampaikan materi belajar, melainkan sebuah panggilan mulia yang membawa tanggung jawab besar untuk membentuk karakter dan masa depan generasi penerus bangsa. Dalam konteks ini, istilah "guru yang tidak menggurui" sering muncul sebagai ideal yang ingin dicapai. Namun, pemahaman tentang apa itu "menggurui" sering disalahartikan.
Menggurui bukanlah sekadar mengajar, menggurui dalam makna negatif bisa berarti mendoktrin, bersikap otoriter, atau menyampaikan pelajaran dengan cara yang membosankan dan membuat siswa merasa terpaksa. Namun secara etimologi dan filosofi, guru memang harus "menggurui" dalam arti mentransfer ilmu dan nilai secara bijak dan teladan. Guru sejati menggurui dengan cara yang humanis, kreatif, dan inspiratif sehingga siswa merasa mendapat bimbingan, bukan paksaan .
Untuk menjadi guru yang tidak menggurui dalam arti negatif, guru perlu menempatkan diri sebagai fasilitator belajar yang membangun suasana kelas yang menyenangkan dan interaktif. Guru harus peka terhadap kebutuhan, karakter, dan lingkungan siswa sehingga metode pengajaran dapat disesuaikan agar siswa aktif berpikir dan berbicara, bukan sekadar menyerap informasi secara pasif .
Guru juga harus memiliki berbagai akhlak mulia seperti kesabaran, keadilan, kelembutan, dan kemampuan menasehati tanpa menghakimi. Keteladanan guru dalam sikap, tutur kata, dan perilaku sehari-hari sangat menentukan keberhasilan proses belajar. Ketika guru menjadi panutan yang inspiratif, siswa akan lebih mudah menerima ilmu dan membentuk karakter yang baik. Seperti pepatah, "Guru kencing berdiri, murid kencing berlari," mencerminkan betapa besar pengaruh perilaku guru .
Seorang guru yang tidak menggurui juga adalah guru yang mampu membangun hubungan emosional positif dan saling menghormati dengan siswa. Guru yang menyayangi murid secara tulus, mampu menasihati dengan lemah lembut, dan mendorong murid untuk berprestasi dengan penuh semangat tanpa menimbulkan rasa takut atau rendah diri. Pendekatan ini menjadikan proses pembelajaran sebagai pengalaman yang bermakna dan menyenangkan .
Di era modern, tuntutan menjadi guru yang tidak menggurui semakin penting karena perubahan paradigma pendidikan menuju pembelajaran yang berpusat pada siswa. Guru bukan lagi otoritas mutlak, melainkan mitra dalam proses pembelajaran. Penggunaan teknologi dan metode pembelajaran inovatif menjadi sarana bagi guru untuk mengaktualisasikan peran ini, sehingga siswa terdorong untuk mandiri dan kreatif .
Dengan demikian, menjadi guru yang tidak menggurui adalah upaya untuk menyeimbangkan kewajiban mentransfer ilmu dengan sikap bijaksana yang mendidik secara holistik. Guru harus tetap menggurui—dalam pengertian memberikan ilmu dan bimbingan—namun tanpa sikap menyudutkan atau pemaksaan, melainkan dengan hati yang tulus dan metode yang menghargai kebebasan dan keunikan tiap siswa.
Waiipa Cazica, 6 September 2025

Komentar
Posting Komentar