Langsung ke konten utama

SELAMAT JALAN SOKO GURU (M.TAKIM KADIR LIEM)

 ----------------------------------------KENANGAN AKAN DIRI MU---------------------------------------
Dorongan kuat untuk mencintai kadang kala membuat rasa cinta orang tua rela melakukan apa pun untuk memberikan yang terbaik kepada anak-anak mereka. Orang tua adalah sosok sentral dalam perjalanan hidup kita selama ini ibu yang mengandung dan merawat kita dengan sepenuh hati, sedangkan ayah orang bekerja keras untuk kelangsungan hidup kita. Dari jerih payah keringat ayahlah kita bisa makan, kita bisa beli apapun yang kita inginkan kita bisa sekolah dll. Ucapkanlah syukur untuk kalian yang saat ini masih bisa melihat orang tua berdiri tegap dan sehat, jangan sampai  mengecewakan kedua orang tua karena jasanya pada kelangsungan hidup kita ini sangatlah besar, balas semua jasanya dengan prestasi yang kau ukir karena tak pernah meminta uang yang ia keluarkan itu untuk kembali melainkan prestasi yang membanggakan lah yang mampu membayar semuanya.
Ketika ketika kita sakit, orang tua kita selalu resah dan selalu berusaha mencari obat untuk kesembuhan kita. itu adalah salah satu bukti bahwa orang tua kita selalu memperdulikan kita. seperti itulah gambaran orang tua termasuk cerita ayah saya, sang pendidik luar biasa, pejuang hebat, kreator unggul dan pahlawan utama hidup saya.
Beliau sangat luar biasa, begitulah rangkuman ciri darinya yang takmampu ananda gambarkan lewat tulisan ini karena pribadinya terlalu luar biasa untuk dinapaktilasi, terlalu banyak kebanggan yang sulit diutarakan, terlalu panjang ceritanya hingga usia senjanya. semua itu disadari ketika taklama lagi beliau bersama saya dan adik kakak saat menikmati benih perjuangan yang sejak dulu beliau tanamkan. jika bukan kehendak Allah maka rasanya tak adil semua ini terjadi, karena beliau ayah tercinta ku layak untuk menerima semua semua ini, seharusnya beliau masih bisa bahagia, bercanda, tertawa dan berbagi hidup bersama ibunda tersayang serta anak-anaknya hingga cucunya.
Namun kenyatannya berkata lain, teringat waktu itu mereka berdua yang hidup dengan kasih sayang selama ini disaat susah dan duka, ditengah pilunya harapan membangun keluarga hebat, dikala semuanya belum seperti saat ini.. ya mereka kedua orang tua saya, ayah dan ibunda tercinta hendak dari kampung halaman (desa ona) berangkat menuju kota sanana dengan menumpangi kenderaan laut (long boat), jantung ibu kota kabupaten kepulauan sula hanya dengan alasan sepeleh yakni sempat mendengan putri bungsunya lagi sakit malaria membuat keduanya meninggalkan rumah tempat kita dibesarkan disana dan rela berjemuran dibawah terik matahari dengan menempuh perjalanan panjang.
Dengan penuh rasa cemas yang tampak diwajah mereka akan kesehatan anak bungsunya kedua orang tua ku akhirnya tiba tepat hari Rabu 3 Februari 2016 pukul 09.43 WIT. Keduanya langsung menuju rumah dimana kami tinggal yang baru dua tahun di bangun, letaknya di Desa Fogi (Belakang PDAM Sanana). Setibanya dirumah dengan wajah tak sabar, langsung menuju ke kamar menjenguk anak bungsunya yang sakit. Melihat kondisi kesehatan anaknya, ayah ku sang pelindung itu langsung berkesimpulan untuk berjiarah dengan alasan yang bagi ku itu tidak terlalu diterima oleh akal sehat, namun bukan ayak ku kalau tidak konsisten dengan pegangan hidup. Beliau itu sering menggunakan pendekatan mistis dlam urusan seperti ini dan tanpa ragu memutuskan untuk berjiarah ke kubur kakek yang bertempat di Desa Fatcey tempat yang telah disediakan pemerintah daerah sebagai lahan pekuburan masyarakat, beliau sempat mengajak pendamping hatinya untuk bersamanya esok untuk berjiarah.
Keesokan harinya Kamis pukul 14.30 kedua pasangan hidup itu pergi berjiarah ke pemakaman kakek saya dan saudara lainnya yang sedari awal perlengkapan jiarah telah disediakan oleh ibunda tercinta saya dengan bertindak selaknya pelayan setia. setelah selesai berjiarah, kedua pasangan harmonis itu langsung bersilaturahmi dengan sanak saudaranya sekaligus memberitahukan keberadannya, dengan keseriusan berbagi cerita sampai-sampai keduanya hampir kemalaman di jalan ketika hendak pulang kerumah, anehnya saat itu ayah saya memutuskan untuk tidak naik kendraan dengan alasan jalan kaki biar sehat. istri tercintanya tetap setia mengikuti keinginan sang suaminya dan berjalan kaki hingga tiba dirumah hampir waktu sholat magrib.
Ketika tiba dirumah, sama seperti biasanya kedua pasangan ideal itu langsung menuju kearah cucunya yang masih berumur 8 Bulan dan menggendongnya sambil membawa kearah tente bungsu anak itu yang lagi lemas karena sakit.. malam itu tawa dan canda mewarnai aktifitas kami sampai larut malam, cucunya yang masih kecil tetap ngotot tak mau tidur karena keasikan main sama kakek dan neneknya. karena semakin larut, akhirnya saya menyarankan untuk mereka semua harus tidur termasuk adik saya yang sakit. semua menerimanya dan bergerak ke kamar masing-masing untuk beristirahat kecuali saya yang sangat sibuk dengan aktifitas kampus.
Kala itu saya lagi persiapkan administrasi untuk kegiatan workshop di Kampus STAI Babussalam Sula dimana saya bekerja, sebagai panitia inti sudah pastinya banyak kerja sebab kegiatan pembukaannya tinggal satu hari, maka malam itu saya bergadang untuk mengetik administrasi kegiatan hingga larut malam. ahh bagi saya itu hal biasa, walau tak sibuk juga seperti itu waktu saya dimalam hari. keasikan mengetik terdengan suara derap langkah menuju ke kamar mandi dan kemudian bunyi percikan air pun terdengar, dalam pikiran saya pasti itu bapak ku, setelah keluar dari kamar mandi beliau langsung menuju ruang tengah dan menghidupkan televisi, tanpa ragu saya pun yakin... benar itu pasti papa (sebutan pasar bagi seorang bapak), karena memang kebiasaan beliau hampir subuh terbangun untuk menonton siaran berita.
Namun peristiwa misterius terjadi dimalam itu ketika hampir pagi, Jumat pukul 04.45 WIT, keadaan dimana saya pun hampir tak bisa memaafkan diri saya, hanya karena sibuk dengan pekerjaan dikala mendengar teriakan kakak perempuan yang melihat bapak terbaring pulas tak berdaya. Saya pun sekejap meninggalkan pekerjaan dan berzlari menuju arah teriakan itu dan menemukan orang yang saya agungkan dan cintai, sosok ayah yang terbaring lemas kini sudah tak bernyawa, sekejap itu seluruh keluarga serumah terbangun dan lari menuju kearah ayah yang terbaring di samping anaknya (adik laki-laki saya), dia pun akhirnya terbangun dan tak sadar kalau ayahnya berbaring disampingnya hingga mengakhiri nafas terakhir.
Rasa tak puas bercampur menyesal seluruh keluarga menyarankan untuk membawa kerumah sakit karena tak yakin kalau ayah sudah meninggal dunia, namun saya yang merasakan langsung kalau ayah sudah tak bernafas lagi dan kusarankan ke adik bungsu yang baru wisudah dari kuliah keperawatan untuk mengambil steteskop (alat medis untuk menditeksi detak nadi) agar memastikan nadi atau jantung ayah masih berdetak atau tidak, dalam keadaan lemas karena sakit namun sempat terlupakan karena melihat kondisi ayah seperti itu. setelah di test adik saya memandang kita semua dan menyatakan kalau seluruh organ tubuh ayah sudah tidak berfungsi.. teriakan tangisan menggema seisi rumah karena sedih dan menyesal tidak ada yang sempat menyaksikan ditik-detik kepergian ayah tercinta.. sebab tidak ada tanda-tanda sakit atau apa yang mencurigakan.. rasa sedih, bersalah dan menyesal menyelimuti diri ku tak dapat ku sembunyikan.. sosok luar biasa itu pergi tanpa ada pesan apapun.. papaa kenapa seperti itu cara mu meninggalkan kita semua, ayah kesini untuk menjengung Letty (nama panggilan adik saya yang lagi sakit), kenapa papa yang pergi... ya ampun....! semua kalimat penyesalan ku ungkapkan, seluruh keluarga termasuk ibu ku juga menangis tak berdaya mengucapkan kalimat sedih dan penyesalan serupa...!
Kini saat ku tulis cerita ini, kepergian ayah sudah delapan bulan, ya... hampir 1 Tahun. Tak terasa begitu cepat waktu berlalu sudah lama aku tak melihatmu Sungguh sangat kurindukan masa-masa seperti dulu.. disaat kau ada dikehidupnku. Takut rasanya saat mengingat masalalu bersamamu, Setiap kuingat.. air mata ini selalu tak mampu kubendung, Tangis ini karena kerinduanku padamu, Rindu akan kasih sayangmu, Rindu akan tutur katamu, Rindu akan semua yang ada pada dirimu.
Di ujung usiamu yang tak lagi muda, Kau tetap membuatku tertawa, Menyisipkan canda dalam duka, Membuatku lupa akan lara yang ada, Engkau tak segan berjuang untuk ku, Berkeringat tiap terik, Kedinginan tiap malam, hanya untuk biaya hidup, agar aku tetap menghirup udara dalam kejamnya dunia.
Ayah dalam hati ini ku sampaikan, aku juga manusia, yang terkadang khilaf dalam kata, selalu salah dalam bicara, aku tahu papa...., Lidahku pernah menyayat hatimu yang lembut, suci, tulus, pernah mengoyak perasaanmu, hingga ku tak sadar kau meneteskai air mata diantara keringat-keringat yang bermunculan keningmu....
Maafkan aku, Ayah.. Maaf kan aku papa....!
Rasa tercambuk saat aku menatap matamu itu saat itu, teringat kata-kata buruk yang telah aku katakan, tingkah laku salah dan mengecewakan mu. Aku hanya menambah beban di-harimu yang lama tenggelam saat sudah dulu. Seluruh potret hidup seolah tampak jelas di pelupuk mata ku, semua hadir seolah menghakimi ku ayah, sejuta tayangan dosa atas perbuatan ku kini menghantui ku... Maafkan aku ayaaaahhh....hhhh
Ayah.... dalam benak ini masih teringat dikala itu saat hamparan bintang menyelimuti bumi, dingin malam menusuk tulang hati, sunyi, sepi, gelap gulita, aku mendapatkan mu dalam keadaan tidak lagi bernyawa, suatu kepergian yangtak di duga, dengan senyum diwajah mu terasa tak ada beban kau tinggalkan kita semua untuk selamanya, hati ini seperti disayat pisau menyesal tak sempat mendengar kata terakhir dari mu. Kenangan pesan kehidupan dari mu dikala kita sedang duduk bersama menikmati hidangan makan malam seolah menjadi kenangan manis yang sering membuat air mata ini tak sadar membasahi pipi, melihat kursi yang sering kau duduk saat bersantai dan membayangkan wajah mu, kau bagaikan pemimpin luar biasa yang hanya meninggalkan sejuta makna dalam ajaran dan perilaku mengenai kehidupan.
Papa.....! Jika saja masih punya waktu lima menit sebelum kau pergi meninggal kan kita atau jika saat itu aku berkesempatan maka akan kuberitahukan semua hal yang ingin ku sampaikan, Selama ini aku tidak pernah memberitahumu apa-apa sampai hembusan nafas terakhir, kalau betapa berartinya ayah bagiku, bagi kita semua, setidaknya Kau adalah ayah terbaik lebih baik dari siapapun....selama ini... jika kenyataan ini ku tahu sebelumnya, saat terakhir bicara denganmu, aku berharap, ayah akan tahu dan mendengar perkataan ku kalau mencintamu, karena itu yang bisa ananda mu ini membalasnya, hanya bisa membuat mu bahagia memiliki anak seperti diri ku, baru kemuduian ajal menjemput mu.
Jika saja masih ada waktu sebelum kau meninggal, aku akan berimu 1 pelukan terkahir dengan segala kecintaan, rasa terima kasih dan penuh kebanggaan memiliki ayah seperti diri mu, pelukan erat di bawah senyum lebarmu, aku akan beri tahu ayah bahwa, Kau sosok yang hebat, sosok yang telah berhasil mewariskan peradaban besar ke dalam diri anak-anak mu, bahkan walau untuk sesaat aku akan mengecup pipimu mengambil tanganmu dan meletakkan di dada ku yang berdetak tak beraturan ini dan berkata, ayah jangan pergi... kau yang telah menanam, maka sekali lagi ijinkan dirimu menikmati hasilnya.
Namun semua ini hanyalah ilusi kosong... hayalan akan kecintaan aku pada mu ayah... dan kenyatannya di antara mega kegelapan yang gempita, dikala ku duduk beralas tikar tepat disamping mu, penuh kesedihan dan penyesalan ketika menatap mata mu yang tertutup, dikala itu aku tak berdaya dan hanya bisa menggenggam erat tangan mu yang kusut karena berjuang membesarkan ku, tangan yang mengajari ku untuk halal mencari nafkah, tangan yang membelai ku waktu kecil dikala tidur.. ayah....! saat itu aku hanya bisa merunduk mencium tangan mu dan berdoa agar engkau Khusnul khotimah, mencoba ikhlas melepaskan mu menghadap ilahi Robby.
Ayah...! aku saksi perjalanan hidupmu yang lama kau tempuh, dan kini saksi perjuanganmu menerjang kerasnya dunia secara memuja seluruh tindakan mu yang sulit ku contohi. Di sela-sela kebanggaan ku pada mu terdapat satu rasa yang harus ku ungkapkan... Ayah dengan kepergian ku, kini selain ibunda tercinta, siapa lagi yang masih sudi menyebut namaku ini di antara ayat-ayat suci yang di baca dengan hati khusyuk dan penuh pengharapan dalam setiap sujud,  siapa lagi yang berdo'a di akhir sholatnya hanya untuk anaknya sehat, selamat, banyak rejeki, terhindar dari mala petaka dan bisa menghirup udara segar di hari-hari mendatang...! Siapa lagi ayahhh...! Tolong Jawab Ya Allahhh.....
Maka tolong ya Allah...! Kini hanya tinggal ibu ku, sosok lembut dengan penuh kasih sayang, sayap bagi ku untuk bisa bertahan ditengah derasnya hamparan angin kehidupan...! Jaga lah beliau ya Allah, Berikanlah kesehatan padanya, ketabahan padanya, kekuatan padanya, berikan rahmat umur panjang padanya dan buatlah hatinya tentram bersama kami sekeluarga...! amieen ya Robby.
Dalam kejamnya dunia, dibaluti kesedihan ku sampaikan selamat jalan buat ayah tercinta, engkau adalah perisai ku,... Engkau adalah kesatria ku.., engkau adalah motivasi ku, engkau adalah pelita bagi ku, engkau adalah kebanggaan ku, engkau adalah SOKO GURU bagi ku.. engkau adalah segalanya bagi ku.
Ayah...! Do'aku akan selalu mengiringi perjalananmu, lantunan nama mu tak terlupakan dalam setiap permintaan ku pada Ilahi Robby, semoga tuhan membalas kebaikanmu selama ini, semoga lapang kubur dan mendapat syurga Jannatun Na'in... Aku selalu menyayangimu, aku selalu mengenang mu ayah... akan
selalu ku kenang.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketidakadilan yang Membusuk: Ketika Prioritas Publik Menghukum Guru Honorer

Oleh: Sahrul Takim Pendahuluan: Angka yang mengoyak Hati Tidak ada yang lebih mengoyak nurani kolektif daripada melihat angka-angka, angka yang seharusnya merepresentasikan penghargaan negara terhadap kerja, pengabdian, dan martabat manusia, tetapi justru membuka tabir tentang betapa kelirunya arah prioritas kebijakan publik. Pada awal tahun 2026, masyarakat Indonesia disuguhi fakta yang mengejutkan melalui pemberitaan media massa mengenai besaran gaji pegawai Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kepala dapur disebut menerima gaji hingga tujuh juta rupiah per bulan, ahli gizi dan akuntan di kisaran lima juta rupiah, pengantar makanan sekitar tiga juta rupiah, bahkan tukang cuci piring memperoleh sekitar dua juta lima ratus ribu rupiah. Angka-angka ini pada dasarnya bukan persoalan jika berdiri sendiri, sebab setiap pekerjaan memang layak memperoleh upah yang manusiawi. Namun persoalan serius muncul ketika angka-angka tersebut dibandingkan dengan realitas yang dialami guru honorer di I...

Miliaran Rupiah Tanpa Jejak; PPJ dan Korban Nyawa di Kota Sanana

Oleh: Sahrul Takim  Ada ironi besar yang terus dibiarkan tumbuh di Kabupaten Kepulauan Sula yakni rakyat membayar untuk penerangan, namun yang diperoleh bertahun-tahun hanya kegelapan. Pajak Penerangan Jalan (PPJ) dipungut rutin, disiplin, dan nyaris tanpa celah. Namun hasilnya? Kota Sanana di malam hari justru menampilkan wajah kumuh, gelap, dan berbahaya sebuah potret keburukan tata kelola anggaran daerah yang telanjang di depan mata publik. Secara normatif, PPJ adalah pajak daerah yang dipungut melalui rekening listrik PLN berdasarkan Undang-Undang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD). Skemanya sederhana: setiap pembelian token listrik prabayar, masyarakat otomatis membayar tambahan 10 persen untuk PPJ. Dana ini langsung masuk ke Kas Daerah sebagai Pendapatan Asli Daerah (PAD). Pertanyaannya sederhana tapi agak aneh adalah kemana perginya uang itu? Dengan jumlah pelanggan listrik di Kepulauan Sula yang terus bertambah selama kurang lebih 20 tahun, akumulasi PPJ yang masuk ke...

PERNIKAHAN ATARA KEMEWAHAN DAN KEBERKAHAN

  Oleh: Sahrul Takim   "Pernikahan bukanlah tentang kemewahan, tapi tentang keberkahan. Maka jangan jadikan ia berat karena mahar yang mahal atau pesta yang berlebihan." ( Syekh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah) Prolog Pernikahan adalah salah satu sunnah Rasulullah SAW yang sangat dianjurkan bagi umat Islam. Ia bukan hanya sekadar penyatuan dua insan, melainkan juga ibadah yang bernilai tinggi, sarana menjaga kehormatan diri, serta jalan untuk membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Realitas kehidupan masyarakat saat ini, sering kali pernikahan justru dibebani dengan biaya yang sangat besar, hingga membuat sebagian orang merasa enggan atau menunda pernikahan karena keterbatasan ekonomi. Bahkan kerap menempuh jalan pintas walau harus memikul dosa besar, hanya karena menghindari tingginya Penetapan Biaya Nikah. Sebagian lain harus memilih mengakhiri perasaan dan perjalanan selanjutnya disebabkan karena tidak memiliki biaya yang besar. Dalam masyarakat...