Langsung ke konten utama

Masih masalah yang sama: Akademisi Soroti Kinerja DPRD

SANANA - Keinginan DPRD yang meminta tambahan ruangan dalam APBD 2016, mendapat sorotan dari akademisi STAI Babusalam, Syahrul Takim. Menurutnya, kinerja DPRD hingga saat ini terbilang biasa-biasa saja, dan tidak ada prestasi yang patut dibanggakan. Apalagi, gedung DPRD yang ada saat ini, juga sudah sangat representatif dan tidak perlu penambahan gedung baru. "Hampir tidak ada prestasi yang mencolok sejauh ini,” ucap Takim. Buktinya, selama menjabat belum satu pun Perda inisiatif yang dihasilkan. Selain itu, pemilihan kepala desa yang menabrak aturan saja, tak mampu diluruskan, PAD yang minim, tak bisa digenjot oleh SKPD karena pengawasan DPRD yang lemah. Banyak pembangunan yang amburadul karena tidak bisa dikontrol DPRD, ditambah dengan rajinnya DPRD keluar daerah menjadi segelumit catatan miring untuk DPRD. Alangkah baiknya, uang rakyat Rp 6 miliar lebih itu digunakan untuk kepentingan pembangunan lain yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Seperti jalan dan jembatan atau air bersih. ”Ini lebih bermanfaat ketimbang membangun gedung DPRD yang ujung-ujungnya tidak bermanfaat,”tandasnya. (014)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketidakadilan yang Membusuk: Ketika Prioritas Publik Menghukum Guru Honorer

Oleh: Sahrul Takim Pendahuluan: Angka yang mengoyak Hati Tidak ada yang lebih mengoyak nurani kolektif daripada melihat angka-angka, angka yang seharusnya merepresentasikan penghargaan negara terhadap kerja, pengabdian, dan martabat manusia, tetapi justru membuka tabir tentang betapa kelirunya arah prioritas kebijakan publik. Pada awal tahun 2026, masyarakat Indonesia disuguhi fakta yang mengejutkan melalui pemberitaan media massa mengenai besaran gaji pegawai Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kepala dapur disebut menerima gaji hingga tujuh juta rupiah per bulan, ahli gizi dan akuntan di kisaran lima juta rupiah, pengantar makanan sekitar tiga juta rupiah, bahkan tukang cuci piring memperoleh sekitar dua juta lima ratus ribu rupiah. Angka-angka ini pada dasarnya bukan persoalan jika berdiri sendiri, sebab setiap pekerjaan memang layak memperoleh upah yang manusiawi. Namun persoalan serius muncul ketika angka-angka tersebut dibandingkan dengan realitas yang dialami guru honorer di I...

Miliaran Rupiah Tanpa Jejak; PPJ dan Korban Nyawa di Kota Sanana

Oleh: Sahrul Takim  Ada ironi besar yang terus dibiarkan tumbuh di Kabupaten Kepulauan Sula yakni rakyat membayar untuk penerangan, namun yang diperoleh bertahun-tahun hanya kegelapan. Pajak Penerangan Jalan (PPJ) dipungut rutin, disiplin, dan nyaris tanpa celah. Namun hasilnya? Kota Sanana di malam hari justru menampilkan wajah kumuh, gelap, dan berbahaya sebuah potret keburukan tata kelola anggaran daerah yang telanjang di depan mata publik. Secara normatif, PPJ adalah pajak daerah yang dipungut melalui rekening listrik PLN berdasarkan Undang-Undang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD). Skemanya sederhana: setiap pembelian token listrik prabayar, masyarakat otomatis membayar tambahan 10 persen untuk PPJ. Dana ini langsung masuk ke Kas Daerah sebagai Pendapatan Asli Daerah (PAD). Pertanyaannya sederhana tapi agak aneh adalah kemana perginya uang itu? Dengan jumlah pelanggan listrik di Kepulauan Sula yang terus bertambah selama kurang lebih 20 tahun, akumulasi PPJ yang masuk ke...

Bukan Soal Juara; Gabalil Hai Sua Adalah Penegasan identitas dan Ritual Yang Sakral

Oleh: Sahrul Takim Sangat keliru jika Gabalil Hai Sua Dilihat hanya sebatas perlombaan atau kompetisi yang berakhir juara, Sebab ritual Gabalil Hai Sua yang diselenggarakan bukan sekadar kegiatan seremonial, bukan pula sekedar perlombaan yang maknanya diukur dari siapa yang lebih cepat, berkreasi dan selanjutnya siapa yang menjadi juara. Dalam kajian antropologi budaya, ritual seperti Gabalil Hai Sua adalah tindakan kolektif yang menghubungkan manusia ( Matapia Sua ) dengan ingatan sosial ( Wakdab/Manawak ), ruang hidup, dan nilai-nilai yang diwariskan lintas generasi.  Karena itu, esensi Gabalil Hai Sua terletak pada pengalaman bersama mengenai sebuah perjumpaan batin yang berakar pada cinta negeri untuk meneguhkan kembali hubungan masyarakat dengan tanah ( Hai Sua ), sejarah, dan identitasnya. Dalam pengalaman itu, tanah tidak dipahami semata sebagai ruang geografis tempat orang sula tinggal, melainkan sebagai ruang hidup yang menyimpan jejak leluhur, memori kolektif, nil...