Langsung ke konten utama

81 Tahun; Garuda, Aku Melihat Banyak Peristiwa

 

Oleh: Imam Lafran S. Takim


Dikala Indonesia dilahirkan, aku menemukan wajah rakyat yang kusam dan letih, namun menyimpan kegembiraan yang tak terlukiskan. Tangisan haru anak-anak yatim dan para janda bercampur dengan sorak-sorai rakyat yang menyambut sebuah pagi baru: pagi ketika bangsa ini akhirnya berdiri dengan kepala tegak di tanahnya sendiri.

Aku melihat para kiai hanyut dalam lantunan takbir yang megah, seakan suaranya merobek langit Nusantara. Aku melihat para pendeta dan uskup khusyuk dalam doa. Aku melihat para biksu dan rohaniwan Buddha menundukkan kepala dalam rasa syukur. Di berbagai pelosok negeri, setiap manusia berdoa dengan cara dan keyakinannya masing-masing, tetapi dengan harapan yang sama: semoga Indonesia menjadi rumah yang adil bagi semua.

Kemerdekaan bukan sekadar pergantian bendera. Ia adalah kelahiran sebuah harapan.

Lima tahun setelah Proklamasi, tepat pada 11 Februari 1950, Garuda sebagai Lambang Negara Republik Indonesia mulai memperoleh bentuknya. Ia lahir bukan dari rahim satu suku, bukan dari tangan satu agama, bukan pula dari kehendak satu golongan.

Ia lahir dari rahim Indonesia.

Semua suku, agama, dan golongan menerimanya sebagai anak kandung bangsa. Tidak ada yang bertanya: Garuda ini anak siapa? Dari mana asalnya? Milik kelompok mana?

Sebab semua tahu, Garuda adalah milik kita.

Garuda Indonesia.

Burung yang menggenggam semboyan Bhinneka Tunggal Ika (Berbeda-beda, tetapi tetap satu).

Dari kisah kegembiraan kemerdekaan hingga kelahiran Lambang Negara, sejarah sebenarnya telah mengajarkan kepada kita bahwa Republik Indonesia tidak dibangun semata-mata karena kekayaan tambang, luasnya tanah, besarnya transaksi politik, penguasaan aset ekonomi, perebutan ruang hidup, ataupun pembagian jabatan di lembaga-lembaga negara.

Indonesia dibangun dengan taruhan yang jauh lebih mahal:

harta, keluarga, darah, air mata, bahkan nyawa.

Para pendahulu kita tidak berjuang agar kelak anak cucunya hanya menjadi penonton di negeri sendiri. Mereka berjuang agar penjajahan dalam segala bentuknya berakhir, penjajahan fisik, ekonomi, politik, sosial, budaya, bahkan penjajahan terhadap pikiran dan martabat manusia.

Sebab republik ini didirikan untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia; memajukan kesejahteraan umum; mencerdaskan kehidupan bangsa; serta ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Ketika Garuda masih kecil, ia tampak mungil, lucu dan menggemaskan.

Semua menyayanginya....!

Untuk merawat Garuda kecil itu, yang miskin menyumbangkan keringatnya. Yang kaya menyumbangkan hartanya. Para ulama, pendeta, biksu dan pemuka agama menyumbangkan doa. Para pejuang mengorbankan tenaga. Para pemimpin mempertaruhkan jabatan dan kehidupannya.

Semua bekerja agar Garuda kecil itu tumbuh kuat.

Agar kelak ia mampu mengepakkan sayapnya.

Agar ia mampu terbang tinggi, melintasi kepulauan, menyatukan Sabang hingga Merauke, dari Miangas hingga Rote.

Agar dunia tahu bahwa di negeri yang penuh perbedaan ini, ada satu bangsa yang bernama:

Indonesia.


Kini Garuda telah berusia 81 tahun.

Ia bukan lagi anak kecil.

Ia telah melewati perang, pergantian rezim, pergolakan politik, krisis ekonomi, reformasi, perubahan teknologi, pandemi, dan berbagai ujian zaman.

Tetapi semakin tua usia Garuda, semakin besar pula pertanyaan yang harus kita ajukan kepadanya.

Apakah sayapmu masih kuat, Garuda?

Ataukah cakar dan paruhmu justru mulai melukai tubuhmu sendiri?

Aku melihat Garuda yang dahulu gagah, tetapi kadang tampak lelah.

Aku melihat anak-anak Garuda berebut kedudukan dan warisan dari Sabang sampai Merauke, dari desa hingga pusat kekuasaan.

Aku melihat saudara sebangsa saling mencaci hanya karena berbeda pilihan politik.

Aku melihat demokrasi yang seharusnya menjadi jalan menuju kedaulatan rakyat, tetapi kadang diperlakukan seperti ladang untuk mengejar kepentingan pribadi dan kelompok.

Aku melihat orang-orang beriman yang kadang lupa menjaga lisannya.

Aku melihat sebagian akademisi kehilangan keberanian moralnya.

Aku melihat hukum yang seharusnya menjadi panglima, tetapi terkadang dipertanyakan keberpihakannya.

Aku melihat korupsi yang terus mencari ruang.

Aku melihat kesenjangan yang belum sepenuhnya selesai.

Aku melihat petani yang bekerja keras tetapi belum selalu menikmati hasil keringatnya.

Aku melihat nelayan yang berhadapan dengan ketidakpastian laut dan kebijakan.

Aku melihat komoditas lokal yang kadang dihargai terlalu rendah sementara kebutuhan hidup terus meningkat.

Aku melihat masyarakat kecil yang masih harus berjuang mendapatkan pendidikan, kesehatan, pekerjaan dan ruang hidup yang layak.

Aku melihat tanah yang semakin mahal, air yang semakin berharga, udara yang semakin tercemar, dan ruang hidup yang perlahan semakin sempit.

Aku melihat pembangunan yang terkadang lebih cepat mengejar angka daripada mendengar suara manusia.

Aku juga melihat bagaimana kekuasaan dapat membuat manusia lupa bahwa jabatan hanyalah titipan.

Aku melihat orang-orang yang dahulu berbicara atas nama rakyat, kemudian perlahan lupa bagaimana rasanya menjadi rakyat.

Aku melihat mereka yang dahulu berteriak tentang keadilan, tetapi setelah duduk di kursi kekuasaan justru meminta rakyat untuk bersabar.

Aku melihat batas antara benar dan salah semakin kabur.

Antara baik dan buruk.

Antara dosa dan pahala.

Antara kebenaran dan kepentingan.

Antara kawan dan lawan.

Bahkan antara kritik dan kebencian.

Semua terkadang bercampur dalam satu ruang bernama kepentingan.

Namun, Garuda...

Aku tidak ingin hanya mengingat kesalahanmu.

Karena selama 81 tahun engkau juga telah memberikan begitu banyak alasan kepada kami untuk tetap mencintaimu.

Engkau telah menyaksikan anak-anak desa menjadi sarjana.

Engkau telah melihat manusia dari pelosok Nusantara menjadi pemimpin.

Engkau telah melihat bahasa yang berbeda-beda berbicara dalam satu bahasa Indonesia.

Engkau telah melihat berbagai agama hidup berdampingan dalam satu republik.

Engkau telah melihat teknologi menghubungkan pulau-pulau yang dahulu terasa jauh.

Engkau telah melihat Indonesia tumbuh dari negeri yang baru merdeka menjadi bangsa yang diperhitungkan dunia.

Karena itu, aku masih percaya:


Garuda belum tua.

Ia hanya sedang diuji oleh zaman.

Sayapnya mungkin pernah terluka, tetapi belum patah.

Cakarnya mungkin pernah salah mencengkeram, tetapi masih bisa diarahkan.

Paruhnya mungkin pernah digunakan untuk melukai, tetapi masih bisa digunakan untuk menjaga.

Dan selama masih ada rakyat yang mencintai Indonesia dengan ketulusan, selama masih ada guru yang mengajar dengan keikhlasan, petani yang menanam dengan harapan, nelayan yang melaut dengan keberanian, ulama dan pemuka agama yang mengajarkan kedamaian, akademisi yang menjaga kebenaran, serta pemimpin yang memandang jabatan sebagai amanah—aku percaya Garuda masih mampu terbang.


Garuda...

Maafkan aku yang hanya mampu mendoakanmu dalam sujud.

Aku tidak memiliki senjata untuk menjagamu.

Aku tidak memiliki kekuasaan untuk mengendalikanmu.

Aku hanya memiliki doa, tulisan, pikiran dan kecintaan kepada tanah air.

Semoga Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, memberimu umur panjang.

Semoga engkau tetap menjadi rumah bagi semua anak bangsa.

Semoga perbedaan tidak berubah menjadi permusuhan.

Semoga demokrasi tidak berubah menjadi arena saling menghancurkan.

Semoga kekuasaan tidak membuat manusia kehilangan rasa malu.

Semoga kekayaan alam tidak membuat rakyat kehilangan tanahnya.

Semoga pembangunan tidak membuat manusia kehilangan ruang hidupnya.

Semoga hukum tetap berdiri di atas kebenaran.

Semoga pendidikan melahirkan manusia yang cerdas sekaligus berkarakter.

Semoga para pemimpin selalu ingat bahwa kursi kekuasaan bukanlah singgasana, melainkan amanah.

Dan semoga Indonesia benar-benar menjadi negara yang berdaulat, adil dan makmur—bukan hanya dalam pidato, slogan dan spanduk, tetapi nyata dalam kehidupan rakyatnya.


81 tahun sudah, Garuda.

Aku masih melihat banyak peristiwa.

Aku melihat air mata.

Aku melihat tawa.

Aku melihat pengkhianatan.

Aku melihat perjuangan.

Aku melihat ketidakadilan.

Aku juga melihat harapan.

Dan di antara semua itu, aku memilih untuk tetap percaya kepada Indonesia.

Sebab Indonesia bukan sekadar pemerintahnya.

Indonesia bukan sekadar presidennya.

Indonesia bukan sekadar partainya.

Indonesia bukan sekadar gedung-gedung megahnya.

Indonesia adalah rakyatnya.

Indonesia adalah tanah tempat leluhur kita beristirahat.

Indonesia adalah laut tempat nelayan mencari kehidupan.

Indonesia adalah sawah tempat petani menanam harapan.

Indonesia adalah sekolah tempat anak-anak menulis cita-cita.

Indonesia adalah rumah tempat kita belajar mencintai perbedaan.

Dan Indonesia adalah masa depan yang harus kita wariskan kepada anak cucu dalam keadaan lebih baik daripada ketika kita menerimanya.

Maka, di usiamu yang ke-81 ini, Garuda...

Terbanglah kembali.

Bentangkan sayapmu ke seluruh penjuru Nusantara.

Jangan biarkan satu pun anak bangsa merasa asing di tanah airnya sendiri.

Jangan biarkan kekuasaan mencabut keadilan.

Jangan biarkan kekayaan alam menjadi kutukan bagi rakyat.

Jangan biarkan perbedaan menjadi alasan untuk saling membenci.

Terbanglah tinggi, Garuda.

Bawalah Indonesia menuju masa depan yang lebih berdaulat, lebih adil, lebih makmur dan lebih bermartabat.

Karena meskipun zaman terus berubah,

engkau tetap ada di dada kami.

Dan selama Indonesia masih ada,

kami akan selalu mencintaimu.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.

17 Agustus 1945 – 17 Agustus 2026

“Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur.”

Merdeka!

Tetaplah terbang, Garudaku.
Sebab engkau bukan sekadar lambang negara, engkau adalah cita-cita yang belum selesai.

Waiipa Cazica, 16 Agustus 2026


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketidakadilan yang Membusuk: Ketika Prioritas Publik Menghukum Guru Honorer

Oleh: Sahrul Takim Pendahuluan: Angka yang mengoyak Hati Tidak ada yang lebih mengoyak nurani kolektif daripada melihat angka-angka, angka yang seharusnya merepresentasikan penghargaan negara terhadap kerja, pengabdian, dan martabat manusia, tetapi justru membuka tabir tentang betapa kelirunya arah prioritas kebijakan publik. Pada awal tahun 2026, masyarakat Indonesia disuguhi fakta yang mengejutkan melalui pemberitaan media massa mengenai besaran gaji pegawai Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kepala dapur disebut menerima gaji hingga tujuh juta rupiah per bulan, ahli gizi dan akuntan di kisaran lima juta rupiah, pengantar makanan sekitar tiga juta rupiah, bahkan tukang cuci piring memperoleh sekitar dua juta lima ratus ribu rupiah. Angka-angka ini pada dasarnya bukan persoalan jika berdiri sendiri, sebab setiap pekerjaan memang layak memperoleh upah yang manusiawi. Namun persoalan serius muncul ketika angka-angka tersebut dibandingkan dengan realitas yang dialami guru honorer di I...

Miliaran Rupiah Tanpa Jejak; PPJ dan Korban Nyawa di Kota Sanana

Oleh: Sahrul Takim  Ada ironi besar yang terus dibiarkan tumbuh di Kabupaten Kepulauan Sula yakni rakyat membayar untuk penerangan, namun yang diperoleh bertahun-tahun hanya kegelapan. Pajak Penerangan Jalan (PPJ) dipungut rutin, disiplin, dan nyaris tanpa celah. Namun hasilnya? Kota Sanana di malam hari justru menampilkan wajah kumuh, gelap, dan berbahaya sebuah potret keburukan tata kelola anggaran daerah yang telanjang di depan mata publik. Secara normatif, PPJ adalah pajak daerah yang dipungut melalui rekening listrik PLN berdasarkan Undang-Undang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD). Skemanya sederhana: setiap pembelian token listrik prabayar, masyarakat otomatis membayar tambahan 10 persen untuk PPJ. Dana ini langsung masuk ke Kas Daerah sebagai Pendapatan Asli Daerah (PAD). Pertanyaannya sederhana tapi agak aneh adalah kemana perginya uang itu? Dengan jumlah pelanggan listrik di Kepulauan Sula yang terus bertambah selama kurang lebih 20 tahun, akumulasi PPJ yang masuk ke...

Bukan Soal Juara; Gabalil Hai Sua Adalah Penegasan identitas dan Ritual Yang Sakral

Oleh: Sahrul Takim Sangat keliru jika Gabalil Hai Sua Dilihat hanya sebatas perlombaan atau kompetisi yang berakhir juara, Sebab ritual Gabalil Hai Sua yang diselenggarakan bukan sekadar kegiatan seremonial, bukan pula sekedar perlombaan yang maknanya diukur dari siapa yang lebih cepat, berkreasi dan selanjutnya siapa yang menjadi juara. Dalam kajian antropologi budaya, ritual seperti Gabalil Hai Sua adalah tindakan kolektif yang menghubungkan manusia ( Matapia Sua ) dengan ingatan sosial ( Wakdab/Manawak ), ruang hidup, dan nilai-nilai yang diwariskan lintas generasi.  Karena itu, esensi Gabalil Hai Sua terletak pada pengalaman bersama mengenai sebuah perjumpaan batin yang berakar pada cinta negeri untuk meneguhkan kembali hubungan masyarakat dengan tanah ( Hai Sua ), sejarah, dan identitasnya. Dalam pengalaman itu, tanah tidak dipahami semata sebagai ruang geografis tempat orang sula tinggal, melainkan sebagai ruang hidup yang menyimpan jejak leluhur, memori kolektif, nil...