Langsung ke konten utama

Bukan Soal Juara; Gabalil Hai Sua Adalah Penegasan identitas dan Ritual Yang Sakral


Oleh: Sahrul Takim

Sangat keliru jika Gabalil Hai Sua Dilihat hanya sebatas perlombaan atau kompetisi yang berakhir juara, Sebab ritual Gabalil Hai Sua yang diselenggarakan bukan sekadar kegiatan seremonial, bukan pula sekedar perlombaan yang maknanya diukur dari siapa yang lebih cepat, berkreasi dan selanjutnya siapa yang menjadi juara. Dalam kajian antropologi budaya, ritual seperti Gabalil Hai Sua adalah tindakan kolektif yang menghubungkan manusia (Matapia Sua) dengan ingatan sosial (Wakdab/Manawak), ruang hidup, dan nilai-nilai yang diwariskan lintas generasi. 

Karena itu, esensi Gabalil Hai Sua terletak pada pengalaman bersama mengenai sebuah perjumpaan batin yang berakar pada cinta negeri untuk meneguhkan kembali hubungan masyarakat dengan tanah (Hai Sua), sejarah, dan identitasnya. Dalam pengalaman itu, tanah tidak dipahami semata sebagai ruang geografis tempat orang sula tinggal, melainkan sebagai ruang hidup yang menyimpan jejak leluhur, memori kolektif, nilai-nilai kebersamaan, dan sumber (potensi) untuk keberlanjutan kehidupan masyarakat.

Setiap langkah dalam Gabalil Hai Sua membawa makna simbolik yang mendalam. Ia menghadirkan kesadaran bahwa perjalanan mengelilingi Tanah Sula bukan hanya perpindahan fisik dari satu tempat ke tempat lain atau dari satu kampung ke kampung lain, melainkan proses menelusuri kembali hubungan manusia dengan asal-usulnya. Di sana, peserta Gabalil Hai Sua diajak untuk mengingat sejarah yang telah terbentuk dan terpendam dalam bisunya lisan pia matua. Suatu kisah perjuangan (membangun kampung), ikatan persaudaraan (Basanohi), kohesi sosial (pamanatol), bermusyawarah untuk membangun (Maksaira), terciptanya Ruang Perjumpaan (Malomkub), Berkumpul Dengan Keluarga yang terpisah (Makdahi Sanohi) adalah faktor (kearifan lokal) ikutan yang melekat dalam tradisi Gabalil Hai Sua. Disinilah letak manfaat lain dari kegiatan ini sekaligus wujud tanggung jawab moral untuk menjaga warisan adat agar tetap hidup.

Makna cinta negeri (Sua Wel Bihu) dalam konteks ini juga mengandung dimensi sosial yang kuat. Ia bukan hanya ajakan untuk kembali ke Sula namun justeru menumbuhkan rasa memiliki bersama, memperkuat solidaritas antarwarga, dan menegaskan bahwa identitas Sula dibangun melalui kebersamaan, bukan melalui pencapaian individual. Ketika masyarakat bergerak bersama dalam satu ritual, yang diperbarui bukan hanya ingatan tentang masa lalu, tetapi juga komitmen kolektif untuk kembali ke Sula dalam rangka merawat tradisi di masa kini dan keberlangsungannya dimasa depan.

Ketika seseorang berjalan mengelilingi Tanah Sula seperti Dalam Momentum Gabalil Hai Sua sesungguhnya dia sedang dalam proses pemaknaan. Setiap langkah menghadirkan kembali jejak leluhur, memperbarui kesadaran akan asal-usul, serta menegaskan bahwa kebudayaan hidup melalui tindakan yang diulang, dijaga, dan diwariskan. Disinilah perlu ditegaskan bahwa, praktik semacam ini berfungsi sebagai mekanisme pelestarian memori kolektif dalam membangun kohesi sosial, solidaritas Pia Sua, dan rasa memiliki terhadap ruang budaya secara bersama.

Karena itu, Gabalil Hai Sua tidak semestinya dipahami sebagai kompetisi. Soal juara adalah bentuk perhatian dan apresiasi panitia, tetapi bukan inti dari ritual Gabalil Hai Sua. Nilai terbesarnya justru terletak pada niat yang ditanamkan sejak awal (Najar) para peserta hendak melakukan perjalanan Gabalil Hai Sua yakni hadir dengan kesadaran budaya, menjalankan amanah tradisi, dan menghidupkan kembali ruh atau jiwa rakyat Sula melalui tindakan yang bermakna.

Setiap peserta yang ikut sesungguhnya telah memberi kontribusi penting bagi pelestarian budaya. Kehadiran itu adalah pernyataan bahwa tradisi tidak berhenti sebagai cerita masa lalu, melainkan tetap bergerak dalam kehidupan masyarakat hari ini. Melalui Gabalil Hai Sua, generasi sekarang bukan hanya mengenang warisan leluhur, tetapi juga meneruskannya agar tetap hidup, relevan, dan berakar dalam kehidupan masyarakat Sula.

Dengan demikian, esensi Gabalil Hai Sua bukan terletak pada kecepatan, capaian, ataupun predikat juara. Nilai terdalamnya hadir pada niat yang tulus untuk berjalan bersama, merasakan kembali kehangatan pamanatol do basanohi, terbangunnyan kedekatan dengan tanah leluhur, serta menghidupkan kembali ruh atau jiwa rakyat Sula melalui tradisi yang diwariskan dan terus dipelihara. Di sanalah Gabalil Hai Sua menemukan maknanya, menjadi lebih dari sebuah kegiatan budaya melainkan ia menjadi pernyataan hidup bahwa identitas, sejarah, dan cinta negeri tetap berdenyut dalam langkah masyarakat Sula, sekaligus ruang penegasan bahwa Sula adalah negeri tua atau negerinya para tetua, Sula adalah tanah leluhur, Sula adalah tanah yang diberkati oleh Allah SWT. (Hai Sua Barakat).

Akhirnya kami ucapkan terima kasih kepada panitia GHS dan semua pihak yang sudah berjuang menghidupkan kembali budaya Gabalil Hai Sua, Kepada peserta yang menempuh perjalanan sekitar 138 Kilometer hanya untuk mengetuk pintu hati Basudara untuk kembali merawat ingatan untuk menjaga Sula. Kepada semua pihak yang berkontribusi semoga menjadi amal jariyah disisi Allah SWT.

Waiipa, 6 Mei 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketidakadilan yang Membusuk: Ketika Prioritas Publik Menghukum Guru Honorer

Oleh: Sahrul Takim Pendahuluan: Angka yang mengoyak Hati Tidak ada yang lebih mengoyak nurani kolektif daripada melihat angka-angka, angka yang seharusnya merepresentasikan penghargaan negara terhadap kerja, pengabdian, dan martabat manusia, tetapi justru membuka tabir tentang betapa kelirunya arah prioritas kebijakan publik. Pada awal tahun 2026, masyarakat Indonesia disuguhi fakta yang mengejutkan melalui pemberitaan media massa mengenai besaran gaji pegawai Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kepala dapur disebut menerima gaji hingga tujuh juta rupiah per bulan, ahli gizi dan akuntan di kisaran lima juta rupiah, pengantar makanan sekitar tiga juta rupiah, bahkan tukang cuci piring memperoleh sekitar dua juta lima ratus ribu rupiah. Angka-angka ini pada dasarnya bukan persoalan jika berdiri sendiri, sebab setiap pekerjaan memang layak memperoleh upah yang manusiawi. Namun persoalan serius muncul ketika angka-angka tersebut dibandingkan dengan realitas yang dialami guru honorer di I...

Miliaran Rupiah Tanpa Jejak; PPJ dan Korban Nyawa di Kota Sanana

Oleh: Sahrul Takim  Ada ironi besar yang terus dibiarkan tumbuh di Kabupaten Kepulauan Sula yakni rakyat membayar untuk penerangan, namun yang diperoleh bertahun-tahun hanya kegelapan. Pajak Penerangan Jalan (PPJ) dipungut rutin, disiplin, dan nyaris tanpa celah. Namun hasilnya? Kota Sanana di malam hari justru menampilkan wajah kumuh, gelap, dan berbahaya sebuah potret keburukan tata kelola anggaran daerah yang telanjang di depan mata publik. Secara normatif, PPJ adalah pajak daerah yang dipungut melalui rekening listrik PLN berdasarkan Undang-Undang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD). Skemanya sederhana: setiap pembelian token listrik prabayar, masyarakat otomatis membayar tambahan 10 persen untuk PPJ. Dana ini langsung masuk ke Kas Daerah sebagai Pendapatan Asli Daerah (PAD). Pertanyaannya sederhana tapi agak aneh adalah kemana perginya uang itu? Dengan jumlah pelanggan listrik di Kepulauan Sula yang terus bertambah selama kurang lebih 20 tahun, akumulasi PPJ yang masuk ke...

PERNIKAHAN ATARA KEMEWAHAN DAN KEBERKAHAN

  Oleh: Sahrul Takim   "Pernikahan bukanlah tentang kemewahan, tapi tentang keberkahan. Maka jangan jadikan ia berat karena mahar yang mahal atau pesta yang berlebihan." ( Syekh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah) Prolog Pernikahan adalah salah satu sunnah Rasulullah SAW yang sangat dianjurkan bagi umat Islam. Ia bukan hanya sekadar penyatuan dua insan, melainkan juga ibadah yang bernilai tinggi, sarana menjaga kehormatan diri, serta jalan untuk membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Realitas kehidupan masyarakat saat ini, sering kali pernikahan justru dibebani dengan biaya yang sangat besar, hingga membuat sebagian orang merasa enggan atau menunda pernikahan karena keterbatasan ekonomi. Bahkan kerap menempuh jalan pintas walau harus memikul dosa besar, hanya karena menghindari tingginya Penetapan Biaya Nikah. Sebagian lain harus memilih mengakhiri perasaan dan perjalanan selanjutnya disebabkan karena tidak memiliki biaya yang besar. Dalam masyarakat...