Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2026

JANGAN KITA KHUSYUK BERDOA AGAR TURUN HUJAN, NAMUN KITA SIBUK MERUSAK HUTAN; Membaca Ironi Kerusakan Hutan, Penebangan yang Melanggar Aturan, Krisis Air, dan Masa Depan Ekologi Kepulauan Sula

  Oleh: Dr. Sahrul Takim, S.Pd.I., M.Pd.I.   PROLOG Ada sebuah ironi ekologis yang seharusnya membuat kita berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri, mengapa kita begitu khusyuk meminta hujan kepada Allah SWT, sementara pada saat yang sama kita begitu sibuk merusak hutan yang menjadi bagian penting dari sistem kehidupan? Ketika musim kemarau datang dan tanah mulai mengering, kita menengadah ke langit, berharap awan segera berkumpul dan hujan kembali membasahi bumi. Kita berdoa agar mata air tidak mengering, sumur tetap terisi, kebun warga mendapatkan air, dan masyarakat tidak mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, di balik doa-doa itu terdapat pertanyaan yang jauh lebih menggelisahkan yakni ketika kita meminta air dari langit, apa yang sebenarnya sedang kita lakukan terhadap bumi sebagai sarana penampung air tersebut? Kita mengeluh ketika mata air mulai berkurang, tetapi sering kali tidak cukup serius melihat kondisi hutan dan daerah tangkap...