Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2025
  Konsolidasi KAHMI untuk Indonesia Maju Oleh: Sahrul Takim Konsolidasi KAHMI untuk Indonesia Maju merupakan suatu agenda strategis yang sangat penting dalam konteks penguatan peran intelektual muslim dalam pembangunan nasional. KAHMI (Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam) sebagai wadah yang menaungi para alumni HMI memiliki potensi besar untuk berkontribusi dalam mempercepat kemajuan Indonesia, baik dari segi sosial, ekonomi, politik, maupun budaya. Namun, potensi ini hanya dapat terwujud secara optimal jika konsolidasi internal organisasi ini dilakukan secara serius, sistematis, dan terarah. Pertama, konsolidasi KAHMI sangat dibutuhkan guna menyatukan visi, misi, dan gerak kolektif seluruh alumni HMI di seluruh Indonesia. Di tengah keberagaman latar belakang dan bidang profesi para anggotanya, KAHMI harus mampu membangun kesamaan persepsi bahwa kemajuan Indonesia khususnya di Kabupaten Kepulauan Sula adalah tujuan utama yang harus didukung bersama. Konsolidasi ini mencakup komun...

Paradoks Dibalik Kesombongan Akademik

Bersama Kawan Waktu Sekolah (Muslim Duwila) Oleh: Sahrul Takim  " Aku lebih Menghargai Orang yang Beradab daripada Berilmu. Kalau hanya berilmu Iblis pun lebih Tinggi ilmunya Daripada Manusia." ( Syekh Abdul Qadir Al-Jailani) Pengantar   Pencapaian gelar akademik sejatinya adalah prestasi yang patut dibanggakan, karena mencerminkan usaha, disiplin, dan dedikasi seseorang dalam menuntut ilmu. Namun, di sisi lain, gelar akademik seharusnya tidak menjadi landasan untuk kesombongan atau sikap merendahkan orang lain atau dalam istilah dikenal dengan Kesombongan Akademik.  Kesombongan akademik merupakan sikap atau perilaku yang menunjukkan keangkuhan, arogansi, atau merasa lebih tinggi daripada orang lain karena capaian atau status akademik seseorang. Sikap ini pada dasarnya merupakan perwujudan negatif dari keberhasilan intelektual yang seharusnya menjadi sumber inspirasi dan kerendahan hati, tetapi justru menjadi penghalang dalam proses belajar, berbagi pengetahuan, dan menja...

Mengurai Makna Negatif dan Positif dibalik Slogan "Guru yang Tidak Menggurui"

Oleh: Sahrul Takim  "Guru adalah lilin yang membakar dirinya untuk menerangi jalan orang lain." Menjadi guru bukanlah sekadar profesi untuk menyampaikan materi belajar, melainkan sebuah panggilan mulia yang membawa tanggung jawab besar untuk membentuk karakter dan masa depan generasi penerus bangsa. Dalam konteks ini, istilah "guru yang tidak menggurui" sering muncul sebagai ideal yang ingin dicapai. Namun, pemahaman tentang apa itu "menggurui" sering disalahartikan. Menggurui bukanlah sekadar mengajar, menggurui dalam makna negatif bisa berarti mendoktrin, bersikap otoriter, atau menyampaikan pelajaran dengan cara yang membosankan dan membuat siswa merasa terpaksa. Namun secara etimologi dan filosofi, guru memang harus "menggurui" dalam arti mentransfer ilmu dan nilai secara bijak dan teladan. Guru sejati menggurui dengan cara yang humanis, kreatif, dan inspiratif sehingga siswa merasa mendapat bimbingan, bukan paksaan  . Untuk menjadi guru yang...

Sang Guru Agung di Era Digital: Meramu Inspirasi Maulid Nabi Muhammad Bagi Pendidik dan Pelajar

  Oleh: Sahrul Takim   Awal sebuah pengantar  Di tengah derasnya arus teknologi yang melanda kehidupan manusia abad ke-21, peran guru sebagai pendidik menjadi semakin kompleks dan dinamis. Era digital membawa tantangan sekaligus peluang besar dalam proses pembelajaran. Dari sinilah muncul sebuah kebutuhan mendasar: bagaimana pendidik dan pelajar atau peserta didik dapat menemukan sentuhan spiritual dan etika yang kuat untuk tetap menghargai nilai-nilai kemanusiaan dan kebijaksanaan dalam dunia yang serba cepat dan serba digital ini. Sang Guru Agung, Nabi Muhammad SAW, sebagai sosok guru dan teladan utama dalam sejarah kemanusiaan, menyuguhkan inspirasi abadi yang relevan untuk meramu pendidikan modern yang bermakna dan berkarakter. Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan momentum yang sangat penting bagi umat Islam di seluruh dunia. Lebih dari sekadar mengenang hari kelahiran Rasulullah, Maulid Nabi menjadi wahana spiritual, edukatif, dan sosial yang kaya makna. Dalam...