Langsung ke konten utama

Politik Kotor Biang Kerok Dari Patalogi Sosial

oleh: Sahrul Takim 

Demokrasi dalam PILKADA adalah ajang untuk rakyat menentukan pilihan politik secara sadar dan merdeka untuk kepentingan daerah selama lima tahun. Kini definisi itu di nodai dengan pilihan rakyat yang penuh dengan berbagai tendensi, mulai dari ancaman, bayar, provokasi dan praktek kotor lainnya. Sehingga bergeserlah prinsip kemerdekaan dalam menentukan pilihan berubah menjadi transaksi untuk mendapat pilihan.

Politik transaksional cenderung mengorbankan kepentingan publik demi keuntungan pribadi atau golongan, sehingga merusak integritas dan moralitas dalam sistem demokrasi pada diri masyarakat.M Seharusnya politisi sadari dan mendorong berfokus pada prinsip moral, transparansi, dan kepentingan rakyat tanpa tergoda oleh godaan transaksi material atau kekuasaan. Menyadarkan masyarakat akan pentingnya memilih berdasarkan visi, misi, dan rekam jejak kandidat, bukan berdasarkan imbalan langsung. Mendorong perubahan peraturan untuk menutup celah yang memungkinkan terjadinya politik transaksional, seperti memperketat pengawasan dana kampanye. Menunjukkan bahwa politik transaksional sering kali menjadi pintu masuk bagi korupsi, kolusi, dan nepotisme dalam pemerintahan.

Dalam Konteks Demokrasi Jangan Sampai Membuat Kita Meyakini Bahwa  NARASI yang berkualitas lebih kecil Nilainya dari SEPIRING NASI. Dengan narasi yang sehat, kita dapat membangun masa depan daerah ini sesuai keinginan para pejuang pemekaran. 

Saat ini rakyat tidak punya pilihan untuk bisa menjaga nilai demokrasi ditengah hempitan demokrasi, rakyat mendapat imbas negatif dari sistem politik pemerintahan yang rapuh, rakyat menjadi sasaran terakhir dalam mempertaruhkan kesejahteraannya dengan kerugian para politisi. 

Jadi kesimpulannya Kapitalisasi Demokrasi ini bukan masalah rakyat atau bukan maunya masyarakat, tapi ini adalah rangkaian dari sirkulasi politik buruk dari para elit, Apalagi keyakinan itu datang dari pelaku oknum politisi sejak jaman dulu, yang percaya dengan sepenuh keyakinan dangkal bahwa "Rakyat Lebih Butuh Amplop dengar harga bervariasi dari pada Memaparkan Visi, Misi dan Gagasan. Seolah rakyat lebih Butuh Uang Cash dari pada Gagasan Perubahan.

Faktanya adalah kelompok elit yang memfasilitasi dan memobilisasi praktek kotor ini. Membiasakan secara berulang-ulang sebagai cara efektif menciptakan ketergantungan atau memasung pemilih agar tidak memiliki pilihan lain. Padahal esensi demokrasi itu bukan hanya keharusan untuk memilih tetapi kebebasan dalam memilih.

Saya khawatir jika kenyataan politik ini diterima sebagai sebuah Takdir maka pasti menjadi awal dari keruntuhan peradaban kita Masyarakat sula yang dibangun diatas fondasi Norma Adat istiadat dan Kesusilaan. Hanya segelintir orang yang kaya dari model sistem politik seperti ini tetapi kebanyakan orang akan miskin dan mengalami ketimpangan. Disinilah pintu utama dari munculnya segala kekacauan dimasa depan sebagai efek dari patologi sosial dalam semua aspek kehidupan masyarakat.

Olehnya itu mari kita mengawal proses hingga penetapan hasil pemilihan kepala daerah di kepulauan Sula. Sebab Pilkada yang damai dan berkualitas adalah penyelenggaraan pemilihan kepala daerah yang berjalan lancar tanpa konflik, serta dilaksanakan secara adil, transparan, dan bebas dari kecurangan. Pilkada yang damai ditandai dengan minimnya ketegangan politik, adanya kesadaran masyarakat suka untuk menjaga keamanan, serta komitmen para calon bupati dan wakil Bupati dan pendukungnya untuk mematuhi segala aturan yang berlaku.

Kualitas Pilkada tercermin dari proses yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat sula, baik dalam memberikan suara maupun dalam pengawasan. Penyelenggara pemilu, seperti KPU Sula dan Bawaslu Kepulauan Sula, memainkan peran penting dalam memastikan prosedur yang akuntabel dan netralitas. Faktor-faktor seperti kampanye yang sehat, penggunaan teknologi untuk transparansi, dan pemberian edukasi politik kepada masyarakat turut mendukung terciptanya Pilkada yang berkualitas.

Hasil dari Pilkada Sula yang damai dan berkualitas sangat diharapkan dapat melahirkan pemimpin negeri Senapan ini yang kredibel dan mampu mengemban amanah rakyat, serta memperkuat stabilitas demokrasi di Kabupaten Kepulauan Sula.

Wallahu alam bissawab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketidakadilan yang Membusuk: Ketika Prioritas Publik Menghukum Guru Honorer

Oleh: Sahrul Takim Pendahuluan: Angka yang mengoyak Hati Tidak ada yang lebih mengoyak nurani kolektif daripada melihat angka-angka, angka yang seharusnya merepresentasikan penghargaan negara terhadap kerja, pengabdian, dan martabat manusia, tetapi justru membuka tabir tentang betapa kelirunya arah prioritas kebijakan publik. Pada awal tahun 2026, masyarakat Indonesia disuguhi fakta yang mengejutkan melalui pemberitaan media massa mengenai besaran gaji pegawai Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kepala dapur disebut menerima gaji hingga tujuh juta rupiah per bulan, ahli gizi dan akuntan di kisaran lima juta rupiah, pengantar makanan sekitar tiga juta rupiah, bahkan tukang cuci piring memperoleh sekitar dua juta lima ratus ribu rupiah. Angka-angka ini pada dasarnya bukan persoalan jika berdiri sendiri, sebab setiap pekerjaan memang layak memperoleh upah yang manusiawi. Namun persoalan serius muncul ketika angka-angka tersebut dibandingkan dengan realitas yang dialami guru honorer di I...

Miliaran Rupiah Tanpa Jejak; PPJ dan Korban Nyawa di Kota Sanana

Oleh: Sahrul Takim  Ada ironi besar yang terus dibiarkan tumbuh di Kabupaten Kepulauan Sula yakni rakyat membayar untuk penerangan, namun yang diperoleh bertahun-tahun hanya kegelapan. Pajak Penerangan Jalan (PPJ) dipungut rutin, disiplin, dan nyaris tanpa celah. Namun hasilnya? Kota Sanana di malam hari justru menampilkan wajah kumuh, gelap, dan berbahaya sebuah potret keburukan tata kelola anggaran daerah yang telanjang di depan mata publik. Secara normatif, PPJ adalah pajak daerah yang dipungut melalui rekening listrik PLN berdasarkan Undang-Undang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD). Skemanya sederhana: setiap pembelian token listrik prabayar, masyarakat otomatis membayar tambahan 10 persen untuk PPJ. Dana ini langsung masuk ke Kas Daerah sebagai Pendapatan Asli Daerah (PAD). Pertanyaannya sederhana tapi agak aneh adalah kemana perginya uang itu? Dengan jumlah pelanggan listrik di Kepulauan Sula yang terus bertambah selama kurang lebih 20 tahun, akumulasi PPJ yang masuk ke...

Bukan Soal Juara; Gabalil Hai Sua Adalah Penegasan identitas dan Ritual Yang Sakral

Oleh: Sahrul Takim Sangat keliru jika Gabalil Hai Sua Dilihat hanya sebatas perlombaan atau kompetisi yang berakhir juara, Sebab ritual Gabalil Hai Sua yang diselenggarakan bukan sekadar kegiatan seremonial, bukan pula sekedar perlombaan yang maknanya diukur dari siapa yang lebih cepat, berkreasi dan selanjutnya siapa yang menjadi juara. Dalam kajian antropologi budaya, ritual seperti Gabalil Hai Sua adalah tindakan kolektif yang menghubungkan manusia ( Matapia Sua ) dengan ingatan sosial ( Wakdab/Manawak ), ruang hidup, dan nilai-nilai yang diwariskan lintas generasi.  Karena itu, esensi Gabalil Hai Sua terletak pada pengalaman bersama mengenai sebuah perjumpaan batin yang berakar pada cinta negeri untuk meneguhkan kembali hubungan masyarakat dengan tanah ( Hai Sua ), sejarah, dan identitasnya. Dalam pengalaman itu, tanah tidak dipahami semata sebagai ruang geografis tempat orang sula tinggal, melainkan sebagai ruang hidup yang menyimpan jejak leluhur, memori kolektif, nil...