Oleh: Sahrul Takim
Prolog
Krisis lingkungan hidup dewasa ini telah menjadi persoalan global yang dampaknya dirasakan hingga ke wilayah-wilayah terpencil, termasuk daerah kepulauan. Perubahan iklim, kerusakan hutan, penurunan kualitas udara, krisis air bersih, dan meningkatnya bencana ekologis merupakan tanda bahwa relasi manusia dengan alam berada dalam kondisi yang tidak seimbang. Dalam situasi seperti ini, tindakan-tindakan kecil yang berpihak pada kelestarian lingkungan justru memperoleh makna yang sangat besar.
Salah satu tindakan tersebut adalah menanam pohon. Aktivitas menanam pohon sering kali dipersepsikan sebagai kegiatan rutin, seremonial, bahkan simbolik. Namun, jika ditelaah secara lebih mendalam, menanam pohon sejatinya adalah bentuk perlawanan. Ia adalah perlawanan terhadap kerusakan ekologis, perlawanan terhadap paradigma pembangunan yang eksploitatif, serta perlawanan terhadap sikap apatis manusia modern terhadap masa depan bumi.
Dalam konteks inilah, kegiatan penanaman pohon dan penghijauan lingkungan kampus yang dilaksanakan melalui kerja sama UPTD KPH Kabupaten Kepulauan Sula dengan STAI Babussalam Sula hari ini Selasa 3 Februari 2026 dilingkungan kampus memiliki signifikansi yang jauh melampaui aktivitas fisik semata. Kegiatan ini tidak hanya berdimensi ekologis, tetapi juga mengandung nilai edukatif, sosial, moral, dan ideologis.
Menanam Pohon sebagai Perlawanan Ekologis
Perlawanan tidak selalu identik dengan aksi keras atau konfrontatif. Dalam isu lingkungan, perlawanan sering kali hadir dalam bentuk tindakan sunyi, konsisten, dan berjangka panjang. Menanam pohon adalah salah satu bentuk perlawanan ekologis yang paling nyata. Ia menentang laju deforestasi, degradasi lahan, serta pola pembangunan yang mengabaikan daya dukung lingkungan.
Fritjof Capra (1994: 4) menyatakan bahwa krisis lingkungan sejatinya merupakan krisis cara pandang manusia terhadap alam. Alam diperlakukan sebagai mesin raksasa yang dapat dieksploitasi tanpa batas, bukan sebagai sistem kehidupan yang saling terhubung. Dalam kerangka pemikiran ini, menanam pohon adalah upaya membangun kembali relasi harmonis antara manusia dan alam.
Secara ilmiah, pohon memiliki peran vital dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Pohon berfungsi sebagai penyerap karbon dioksida, penghasil oksigen, penjaga siklus hidrologi, serta penyangga tanah dari erosi dan longsor. Penelitian Nowak dan Dwyer (2007: 49) menunjukkan bahwa penghijauan melalui penanaman pohon mampu meningkatkan kualitas lingkungan dan kesehatan manusia secara signifikan. Dengan demikian, setiap pohon yang ditanam merupakan kontribusi nyata terhadap perlawanan perubahan iklim dan kerusakan lingkungan.
Konteks Kepulauan Sula: Kerentanan dan Tantangan Lingkungan
Sebagai wilayah kepulauan, Kabupaten Kepulauan Sula memiliki kerentanan ekologis yang tinggi. Kerusakan hutan di wilayah daratan dapat berdampak langsung pada wilayah pesisir dan laut, seperti sedimentasi, abrasi pantai, dan menurunnya produktivitas ekosistem laut serta lebih parah lagi adalah hendak beroperasinya Izin Usaha Pertambangan di Pulau Mangoli. Oleh karena itu, upaya penanaman pohon di wilayah ini tidak dapat dipandang sebagai pilihan, melainkan sebagai kebutuhan mendesak.
Menanam pohon di lingkungan kampus merupakan langkah strategis. Kampus tidak hanya menjadi ruang akademik, tetapi juga bagian dari lanskap ekologis wilayah. Pohon-pohon yang tumbuh di kampus berkontribusi dalam menjaga kualitas udara, mengatur suhu mikro, serta menciptakan ruang hidup yang sehat dan berkelanjutan bagi civitas akademika dan masyarakat sekitar.
Kampus sebagai Ruang Perlawanan Intelektual
Kampus memiliki posisi istimewa dalam membentuk cara pandang dan sikap generasi muda. David Orr (2004:10)menegaskan bahwa salah satu kegagalan pendidikan modern adalah melahirkan manusia berpengetahuan tinggi namun miskin kesadaran ekologis. Oleh karena itu, pendidikan lingkungan tidak cukup diajarkan secara teoritis, tetapi harus diwujudkan melalui praktik nyata.
Penghijauan kampus STAI Babussalam Sula merupakan bentuk pendidikan ekologis yang aplikatif. Disini Dosen dan Mahasiswa tidak hanya mempelajari konsep pelestarian lingkungan di ruang kelas atau di buku serta jurnal, tetapi juga terlibat langsung dalam tindakan menjaga alam. Aktivitas menanam pohon menjadi media pembelajaran yang mengajarkan nilai tanggung jawab, kesabaran, kerja sama, dan kepedulian sosial.
Lebih dari itu, kampus hijau menciptakan suasana akademik yang kondusif. Lingkungan yang asri terbukti meningkatkan kenyamanan belajar, kesehatan mental, serta produktivitas akademik. Dengan demikian, penghijauan kampus merupakan investasi jangka panjang bagi kualitas pendidikan itu sendiri.
Sinergi Pemerintah dan Perguruan Tinggi
Kerja sama antara UPTD KPH Kabupaten Kepulauan Sula dan STAI Babussalam Sula mencerminkan pentingnya sinergi lintas sektor dalam upaya pelestarian lingkungan. Emil Salim (2010:24) menekankan bahwa pembangunan berkelanjutan hanya dapat terwujud apabila melibatkan seluruh pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, akademisi, dan masyarakat.
Pemerintah memiliki peran dalam penyediaan kebijakan, bibit, serta pendampingan teknis. Sementara itu, perguruan tinggi berperan sebagai pusat edukasi, riset, dan pembentukan kesadaran publik. Ketika kedua pihak bekerja sama, upaya penghijauan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan berkembang menjadi gerakan berkelanjutan.
Dimensi Moral dan Keagamaan dalam Menanam Pohon
Sebagai perguruan tinggi berbasis keislaman, STAI Babussalam Sula juga memiliki landasan moral dan spiritual dalam aktivitas penghijauan. Dalam perspektif Islam, manusia diposisikan sebagai khalifah di bumi yang bertanggung jawab menjaga dan merawat ciptaan Tuhan. Menanam pohon menjadi bagian dari amanah tersebut.
Tindakan menanam bukan hanya berdampak ekologis, tetapi juga bernilai etis dan spiritual. Ia mengajarkan bahwa ibadah tidak hanya bersifat ritual, melainkan juga sosial dan ekologis. Dengan menanam pohon, manusia berkontribusi pada keberlangsungan kehidupan makhluk lain dan generasi mendatang.
Menanam sebagai Investasi Masa Depan
Pohon yang ditanam hari ini mungkin belum dapat dinikmati hasilnya secara langsung. Namun, ia menyimpan manfaat jangka panjang yang melampaui usia penanamnya. Menanam pohon mengajarkan visi masa depan bahwa perlawanan sejati terhadap krisis lingkungan adalah kesediaan untuk berproses dan berkorban demi generasi berikutnya.
Di tengah budaya instan dan konsumtif, menanam pohon adalah bentuk perlawanan terhadap mentalitas jangka pendek. Ia menuntut kesabaran, konsistensi, dan komitmen jangka panjang. Nilai-nilai inilah yang perlu ditanamkan kepada mahasiswa sebagai calon pemimpin masa depan.
Epilog
Menanam adalah perlawanan yang tenang namun bermakna. Ia adalah perlawanan terhadap kerusakan lingkungan, terhadap ketidakpedulian, dan terhadap cara pandang yang menempatkan alam sebagai objek eksploitasi. Melalui kegiatan penghijauan kampus hasil kerja sama Dinas Kehutanan Kabupaten Kepulauan Sula dan STAI Babussalam Sula, perlawanan tersebut diwujudkan dalam tindakan nyata yang bersifat edukatif, ilmiah, dan moral.
Dari kampus yang hijau, lahir kesadaran baru bahwa menjaga bumi adalah bagian dari tanggung jawab intelektual dan kemanusiaan. Dari satu pohon yang ditanam hari ini, tumbuh harapan bagi masa depan Kepulauan Sula yang lestari dan berkelanjutan.
Wallahu Alam Bissawab....!
Pohea, 3 Februari 2026




Komentar
Posting Komentar