Langsung ke konten utama

Penegasan Rumah Sebagai Sekolah Pertama; Menyoroti Mandulnya Vitalitas Peran Keluarga dalam Menunjang Kesuksesan Belajar Anak



Oleh: Sahrul Takim 

Alam keluarga adalah tempat pendidikan permulaan di mana orang tua berperan sebagai guru, pendidik, dan pembimbing utama bagi anak. Pendidikan keluarga menjadi landasan utama pembentukan kepribadian dan kecerdasan intelektual, emosional, serta spiritual anak (Ki Hajar Dewantara)

A. Prolog

Di era modern yang serba cepat dan kompetitif, peran pendidikan formal semakin ditekankan sebagai penentu kesuksesan seseorang. Namun, di balik gemerlapnya institusi pendidikan, sering kali terlupakan bahwa pendidikan pertama dan paling mendasar seorang anak tidak dimulai di ruang kelas, melainkan di rumah. Ungkapan “rumah adalah sekolah pertama” bukan sekadar retorika, melainkan sebuah realitas yang menegaskan bahwa keluarga, terutama orang tua memegang peranan sentral dalam membentuk dasar kepribadian, nilai, dan cara belajar anak sejak usia dini

Dalam buku Homeschooling: Sebuah Model Pendidikan Alternatif Berbasis Keluarga disampaikan pula bahwa Rumah merupakan lingkungan utama yang memberikan pengalaman pembelajaran pertama pada anak, yang sekaligus menjadi pondasi emosional dan sosial dalam proses pendidikan anak. Pendidikan keluarga ini bersifat kodrat dan sangat penting bagi perkembangan anak.

Rumah sebagai sekolah pertama adalah sebuah konsep yang telah lama menjadi landasan dalam pendidikan, baik secara tradisional maupun modern. Namun, dalam praktiknya, konsep ini tampak kian mengalami stagnasi, bahkan hilang vitalitasnya dalam konteks keluarga masa kini. Fenomena ini menjadi sangat mengkhawatirkan mengingat rumah dan keluarga seharusnya menjadi fondasi utama yang memperkuat kesuksesan belajar anak. Opini ini akan mengulas bagaimana dan mengapa peran keluarga sebagai “sekolah pertama” semakin mandul, serta implikasinya terhadap kualitas pendidikan anak dan proses belajar mereka.

Secara teoritis, rumah idealnya merupakan ruang belajar utama bagi anak. Di sinilah anak-anak pertama kali belajar berinteraksi, memahami nilai moral, mengasah rasa ingin tahu, dan membentuk sikap serta karakter. Peran orang tua bukan hanya sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai guru pertama yang memberikan stimulasi belajar, motivasi, serta contoh perilaku. Dalam skema pendidikan, guru formal di sekolah hanyalah penyambung lidah dari fondasi yang telah dibangun sejak di rumah.

Rumah, dalam pengertian ini, adalah pusat pendidikan yang holistik menggabungkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dengan kedekatan emosional, anak-anak dapat belajar dalam suasana yang aman dan penuh perhatian; tempat mereka dapat mencoba, gagal, dan mengulang tanpa tekanan besar.

B. Mandulnya Vitalitas Peran Keluarga: Realitas yang Terjadi

Zubaidah Lubis dan rekan dalam artikel Pendidikan Keluarga Sebagai Basis Pendidikan Anak menyatakan Orang tua adalah guru pertama, pembimbing utama, dan pendidik utama yang menanamkan nilai agama, bahasa, sosial, dan kebiasaan baik yang mendasari pendidikan selanjutnya anak.

Mandulnya vitalitas peran keluarga merujuk pada kondisi di mana peran keluarga, terutama orang tua, dalam mendukung dan mendampingi proses belajar anak menjadi kurang efektif atau tidak optimal. Hal ini terjadi karena berbagai faktor seperti kesibukan orang tua, kurangnya waktu berkualitas bersama anak, ketidaksiapan orang tua dalam menjalankan peran pendidikan di rumah, serta pergeseran ketergantungan pada sekolah dan teknologi sebagai sumber utama pembelajaran anak.

Keluarga seharusnya menjadi fondasi utama dalam pendidikan anak dengan memberikan nilai-nilai moral, dukungan emosional, motivasi belajar, dan menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Namun, ketika vitalitas ini menurun, anak-anak bisa mengalami rendahnya motivasi belajar, kesenjangan pendidikan, dan masalah psikososial akibat kurangnya dukungan dan bimbingan dari keluarga.

Realitas menunjukkan gambaran yang jauh berbeda. Banyak keluarga, khususnya di era modern dan digital saat ini, mengalami penurunan fungsi sebagai “sekolah pertama.” Beberapa faktor berikut adalah penyebab utama kondisi ini:

1. Kesibukan Orang Tua yang Meningkat
Era globalisasi dan modernitas membawa tuntutan kerja yang semakin berat dan lama, memaksa orang tua lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah. Kesibukan ini berdampak pada berkurangnya waktu berkualitas yang dapat dihabiskan bersama anak. Tanpa interaksi yang intens dan bermakna, anak kehilangan kesempatan untuk mendapatkan bimbingan langsung dari orang tua.

2. Pergeseran Peran Pendidikan ke Sekolah dan Teknologi. 
Banyak orang tua yang terlalu mengandalkan sekolah formal dan teknologi digital sebagai media belajar utama anak. Hal ini menyebabkan keluarga kehilangan kontrol dan peran aktif dalam proses pembelajaran anak. Waktu belajar bisa jadi digantikan oleh tontonan layar dan game, yang justru berpotensi mengalihkan fokus anak dari pendidikan yang sesungguhnya.

3. Ketidaksiapan Orang Tua Menjadi Guru di Rumah
Tidak semua orang tua memiliki kemampuan, pengetahuan, dan kesabaran untuk menggantikan peran guru secara efektif di rumah. Hal ini semakin diperparah dengan kurangnya pemahaman bagaimana membangun suasana belajar yang kondusif dan menyenangkan di lingkungan keluarga.

4. Dinamika Sosial dan Budaya yang terus Berubah
Pola asuh yang kerap bergeser dari penghormatan, disiplin, dan nilai-nilai tradisional ke arah yang lebih permisif dan individualis membuat anak-anak kurang memiliki struktur dan arah jelas dalam pembelajaran di rumah. Keluarga yang semula menjadi pilar pendidikan moral kini kehilangan kekuatannya.

C. Implikasi dari Mandulnya Peran Keluarga

Raudhoh dalam artikel "Peran Keluarga dalam Pendidikan Anak Usia Dini" menekankan bahwa keluarga merupakan lembaga pendidikan pertama dan utama yang sangat penting dalam membentuk karakter dan kecerdasan anak. Mandulnya peran keluarga akan menghambat perkembangan potensi anak secara holistik, baik intelektual, emosional, maupun sosial. Pendidikan keluarga yang efektif adalah fondasi utama kesuksesan pendidikan selanjutnya .

Secara keseluruhan, implikasi mandulnya vitalitas peran keluarga dalam pendidikan anak sangat serius karena dapat menghambat pembentukan karakter, kemampuan akademik, dan kesejahteraan psikososial anak, sehingga berdampak panjang pada masa depan mereka secara menyeluruh.

Mandulnya peran keluarga sebagai sekolah pertama berdampak langsung pada kualitas dan kesuksesan belajar anak. Anak yang tidak mendapatkan bimbingan dan motivasi yang cukup di rumah cenderung mengalami beberapa masalah seperti:

  1. Rendahnya Motivasi dan Disiplin Belajar
    Anak-anak yang kurang didukung keluarga seringkali menunjukkan kurangnya motivasi intrinsik untuk belajar. Mereka bisa menjadi cepat bosan dan mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan akademis.
  2. Kesenjangan Pendidikan
    Tanpa pengawasan dan dukungan aktif dari keluarga, kesenjangan antar siswa semakin melebar. Anak-anak dari keluarga kurang perhatian biasanya tertinggal dalam pencapaian akademik dibanding yang selalu didampingi.
  3. Masalah Psikososial
    Anak yang tidak mendapat pemahaman nilai moral dan kontrol sosial di rumah dapat menghadapi persoalan perilaku, kurang percaya diri, hingga berisiko bermasalah dengan lingkungan sosial.

C. Jalan Keluar dan Harapan

Mengutip pidatonya Prof. Dr. Fauzi, M.Ag. dalam dikutip dalam buku "Menguatkan Peran Keluarga dalam Ekosistem Pendidikan" menyatakan pentingnya kolaborasi antara keluarga, sekolah, dan pemerintah. Ia menyoroti bahwa mandulnya peran keluarga sering terjadi karena kurangnya pendampingan dan bimbingan orang tua, sehingga diperlukan peran para penyuluh keluarga dan guru keluarga untuk menguatkan fungsi edukatif keluarga .

Mengatasi masalah mandulnya vitalitas keluarga memerlukan kesadaran dan keberpihakan dari berbagai pihak, terutama orang tua dan pemerintah:

1. Penguatan Literasi Parenting dan Pendidikan Keluarga

Pemerintah dan lembaga pendidikan harus memfasilitasi program pelatihan parenting dan pembinaan keluarga agar orang tua dapat mempersiapkan diri menjadi guru pertama yang efektif.

  1. 2. Membangun Waktu Berkualitas dalam Keluarga

  2. Orang tua harus mengatur waktu agar tetap dapat terlibat dalam aktivitas belajar anak. Kualitas, bukan kuantitas, waktu bersama anak yang harus diperhatikan.

  3. 3. Integrasi Pendidikan antara Rumah dan Sekolah

    Guru dan sekolah perlu membangun komunikasi yang intens dengan keluarga dan melibatkan orang tua dalam proses pembelajaran anak, sehingga tercipta sinergi yang harmonis.

  4. 4. Pemanfaatan Teknologi Secara Bijak dan Terarah

    Teknologi harus digunakan sebagai alat bantu belajar yang mendukung peran keluarga, bukan menjadi substitusi. Orang tua harus ditempa untuk bisa memandu anak mengakses konten yang edukatif.

  5. 5. Penguatan Nilai-Nilai Keluarga dan Budaya

    Keluarga harus kembali meneguhkan nilai-nilai pendidikan karakter yang memegang peranan penting dalam suksesnya pembelajaran dan pengembangan pribadi anak.

Epilog 

Rumah sebagai sekolah pertama adalah konsep fundamental yang tidak boleh dikesampingkan dalam perjalanan pendidikan anak. Namun, vitalitas peran keluarga kian melemah akibat berbagai tekanan zaman dan perubahan sosio-kultural. Jika kondisi ini terus berlanjut tanpa solusi nyata, bukan tidak mungkin akan berdampak pada kualitas sumber daya manusia di masa depan. Penegasan kembali posisi keluarga dalam pendidikan harus dilakukan dengan strategi yang terpadu, melibatkan orang tua, sekolah, dan pemerintah untuk membangun sinergi yang efektif demi masa depan anak-anak bangsa yang cerah. Keluarga bukan sekadar tempat berlindung, tetapi juga tempat tumbuh kembang ilmu dan karakter yang menjadi fondasi kesuksesan belajar anak.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketidakadilan yang Membusuk: Ketika Prioritas Publik Menghukum Guru Honorer

Oleh: Sahrul Takim Pendahuluan: Angka yang mengoyak Hati Tidak ada yang lebih mengoyak nurani kolektif daripada melihat angka-angka, angka yang seharusnya merepresentasikan penghargaan negara terhadap kerja, pengabdian, dan martabat manusia, tetapi justru membuka tabir tentang betapa kelirunya arah prioritas kebijakan publik. Pada awal tahun 2026, masyarakat Indonesia disuguhi fakta yang mengejutkan melalui pemberitaan media massa mengenai besaran gaji pegawai Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kepala dapur disebut menerima gaji hingga tujuh juta rupiah per bulan, ahli gizi dan akuntan di kisaran lima juta rupiah, pengantar makanan sekitar tiga juta rupiah, bahkan tukang cuci piring memperoleh sekitar dua juta lima ratus ribu rupiah. Angka-angka ini pada dasarnya bukan persoalan jika berdiri sendiri, sebab setiap pekerjaan memang layak memperoleh upah yang manusiawi. Namun persoalan serius muncul ketika angka-angka tersebut dibandingkan dengan realitas yang dialami guru honorer di I...

Miliaran Rupiah Tanpa Jejak; PPJ dan Korban Nyawa di Kota Sanana

Oleh: Sahrul Takim  Ada ironi besar yang terus dibiarkan tumbuh di Kabupaten Kepulauan Sula yakni rakyat membayar untuk penerangan, namun yang diperoleh bertahun-tahun hanya kegelapan. Pajak Penerangan Jalan (PPJ) dipungut rutin, disiplin, dan nyaris tanpa celah. Namun hasilnya? Kota Sanana di malam hari justru menampilkan wajah kumuh, gelap, dan berbahaya sebuah potret keburukan tata kelola anggaran daerah yang telanjang di depan mata publik. Secara normatif, PPJ adalah pajak daerah yang dipungut melalui rekening listrik PLN berdasarkan Undang-Undang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD). Skemanya sederhana: setiap pembelian token listrik prabayar, masyarakat otomatis membayar tambahan 10 persen untuk PPJ. Dana ini langsung masuk ke Kas Daerah sebagai Pendapatan Asli Daerah (PAD). Pertanyaannya sederhana tapi agak aneh adalah kemana perginya uang itu? Dengan jumlah pelanggan listrik di Kepulauan Sula yang terus bertambah selama kurang lebih 20 tahun, akumulasi PPJ yang masuk ke...

PERNIKAHAN ATARA KEMEWAHAN DAN KEBERKAHAN

  Oleh: Sahrul Takim   "Pernikahan bukanlah tentang kemewahan, tapi tentang keberkahan. Maka jangan jadikan ia berat karena mahar yang mahal atau pesta yang berlebihan." ( Syekh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah) Prolog Pernikahan adalah salah satu sunnah Rasulullah SAW yang sangat dianjurkan bagi umat Islam. Ia bukan hanya sekadar penyatuan dua insan, melainkan juga ibadah yang bernilai tinggi, sarana menjaga kehormatan diri, serta jalan untuk membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Realitas kehidupan masyarakat saat ini, sering kali pernikahan justru dibebani dengan biaya yang sangat besar, hingga membuat sebagian orang merasa enggan atau menunda pernikahan karena keterbatasan ekonomi. Bahkan kerap menempuh jalan pintas walau harus memikul dosa besar, hanya karena menghindari tingginya Penetapan Biaya Nikah. Sebagian lain harus memilih mengakhiri perasaan dan perjalanan selanjutnya disebabkan karena tidak memiliki biaya yang besar. Dalam masyarakat...