Langsung ke konten utama

74 Tahun; Garuda Aku Melihat Banyak Peristiwa




Dikala Indonesia Lahir, ku temukan wajah rakyat yang kusam namun penuh gembira, tangisan haru anak yatim dan janda², terlihat juga para kiyai yang hanyut dalam teriakan takbir yang megah merobek langit Nusantara.

Ditengah suka cita kemerdekaan, lima tahun berjalan dalam kegembiraan, tepat di tanggal 11 Februari 1950, dirahim Ibu tertiwi terlihat Garuda mulai Lahir. Semua Suku, Ras dan Agama berdoa kepada Tuhannya tanpa saling curiga, tak ada hinaan bahkan tanpa mempertanyakan itu anak siapa. Tetapi yang ada, semua lapisan masyarakat senang dan gembira meyakini itulah anak kandung Indonesia. Yaa itulah Garuda Indonesia yang menggenggam erat Semboyan Keberagaman untuk kesatuan.

Dari  cerita Tentang Keceriaan kemerdekaan hingga kelahiran Lambang Negara menegaskan bahwa Indonesia ini dibentuk bukan karena potensi pertambangan, bukan soal transaksi politik, bukan juga penguasaan aset ekonomi, bukan juga karena soal ruang hidup, Apalagi hanya bagi-bagi jabatan pada lembaga-lembaga kenegaraan.

Tetapi republik Indonesia ini dimerdekakan dengan taruhan harta, keluarga, darah dan bahkan nyawa sekalipun, hanya karena kecintaan terhadap Burung Garuda, untuk ibu Pertiwi, hanya untuk Indonesia. Kemerdekaan ini untuk menghapuskan penjajahan di semua sektor hingga penjajahan psikologis, Negara ini dimerdekakan untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Ketika Burung Garuda ini masih belia, masih mungil, masih terlihat begitu lucu dan menggemaskan. Semua menyayangi Garuda, Bahkan untuk merawat Garuda Kecil itu, yang miskin menyumbang keringatnya, yang kaya menyumbang hartanya, ulama menyumbang doanya, pejabat hingga presiden mengorbankan gajinya, semua hanya untuk merawat tumbuhnya Garuda agar terbang di udara, melanglang buana di jagat raya seraya meneriakkan Bhineka Tunggal Ika.

Lihatlah Kini Garuda sudah pada usia Tua, Garuda yang sudah renta... Di usia seperti ini Aku melihat anak cucu Garuda merebut kedudukan dan warisan dari Sabang sampai Merauke, dari daerah sampe ke pusat. Aku melihat para saudara sekandung saling caci, berkelahi bahkan membunuh hanya karena berbeda dalam memilih, para orang beriman tak menjaga lisannya, akademisi kehilangan moralnya, aku melihat masyarakat menjadikan Demokrasi sebagai ladang mencari, aku melihat harga komoditi dan pangan lokal anjlok harganya aku melihat para nelayan dan petani mulai kehilangan mata pencaharian.

Aku melihat penguasa menipu rakyatnya, aku melihat banyak praktek korupsi, kolusi dan nepotisme hingga aku melihat mereka bekerja dengan perusahan asing untuk menggadaikan tanah warga, air bersih, udara segar dan ruang hidup.

Aku melihat batasan antara benar dan salah, baik dan buruk, Dosa dan pahala, waras dan gila, pejuang kebenaran dan pendosa, kawan dan lawan telah hilang terkikis oleh cara berpikir yang destruktif.

Garuda Maafkan aku yang hanya bisa mendoakan mu dalam sujud Semoga Allah SWT Tuhan yang maha esa memberikan mu umur panjang, mampu menjaga perbedaan untuk persatuan, lebih bijak menyikapi segala informasi penuh dosa, lebih berdikari di kaki sendiri dan melindungi rakyat mu sebagaimana amanah pendirian Republik Indonesia. Aamin Ya Robbil Alamin.


Dirgahayu Republik Indonesia ke 74 Insyaallah Allah SDM unggul dan Maju. Tetap semangat Garuda karena engkau ada di dada ku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketidakadilan yang Membusuk: Ketika Prioritas Publik Menghukum Guru Honorer

Oleh: Sahrul Takim Pendahuluan: Angka yang mengoyak Hati Tidak ada yang lebih mengoyak nurani kolektif daripada melihat angka-angka, angka yang seharusnya merepresentasikan penghargaan negara terhadap kerja, pengabdian, dan martabat manusia, tetapi justru membuka tabir tentang betapa kelirunya arah prioritas kebijakan publik. Pada awal tahun 2026, masyarakat Indonesia disuguhi fakta yang mengejutkan melalui pemberitaan media massa mengenai besaran gaji pegawai Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kepala dapur disebut menerima gaji hingga tujuh juta rupiah per bulan, ahli gizi dan akuntan di kisaran lima juta rupiah, pengantar makanan sekitar tiga juta rupiah, bahkan tukang cuci piring memperoleh sekitar dua juta lima ratus ribu rupiah. Angka-angka ini pada dasarnya bukan persoalan jika berdiri sendiri, sebab setiap pekerjaan memang layak memperoleh upah yang manusiawi. Namun persoalan serius muncul ketika angka-angka tersebut dibandingkan dengan realitas yang dialami guru honorer di I...

Miliaran Rupiah Tanpa Jejak; PPJ dan Korban Nyawa di Kota Sanana

Oleh: Sahrul Takim  Ada ironi besar yang terus dibiarkan tumbuh di Kabupaten Kepulauan Sula yakni rakyat membayar untuk penerangan, namun yang diperoleh bertahun-tahun hanya kegelapan. Pajak Penerangan Jalan (PPJ) dipungut rutin, disiplin, dan nyaris tanpa celah. Namun hasilnya? Kota Sanana di malam hari justru menampilkan wajah kumuh, gelap, dan berbahaya sebuah potret keburukan tata kelola anggaran daerah yang telanjang di depan mata publik. Secara normatif, PPJ adalah pajak daerah yang dipungut melalui rekening listrik PLN berdasarkan Undang-Undang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD). Skemanya sederhana: setiap pembelian token listrik prabayar, masyarakat otomatis membayar tambahan 10 persen untuk PPJ. Dana ini langsung masuk ke Kas Daerah sebagai Pendapatan Asli Daerah (PAD). Pertanyaannya sederhana tapi agak aneh adalah kemana perginya uang itu? Dengan jumlah pelanggan listrik di Kepulauan Sula yang terus bertambah selama kurang lebih 20 tahun, akumulasi PPJ yang masuk ke...

PERNIKAHAN ATARA KEMEWAHAN DAN KEBERKAHAN

  Oleh: Sahrul Takim   "Pernikahan bukanlah tentang kemewahan, tapi tentang keberkahan. Maka jangan jadikan ia berat karena mahar yang mahal atau pesta yang berlebihan." ( Syekh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah) Prolog Pernikahan adalah salah satu sunnah Rasulullah SAW yang sangat dianjurkan bagi umat Islam. Ia bukan hanya sekadar penyatuan dua insan, melainkan juga ibadah yang bernilai tinggi, sarana menjaga kehormatan diri, serta jalan untuk membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Realitas kehidupan masyarakat saat ini, sering kali pernikahan justru dibebani dengan biaya yang sangat besar, hingga membuat sebagian orang merasa enggan atau menunda pernikahan karena keterbatasan ekonomi. Bahkan kerap menempuh jalan pintas walau harus memikul dosa besar, hanya karena menghindari tingginya Penetapan Biaya Nikah. Sebagian lain harus memilih mengakhiri perasaan dan perjalanan selanjutnya disebabkan karena tidak memiliki biaya yang besar. Dalam masyarakat...